Waktu Saat Ini

Selasa, 19 November 2013

Tuhan Yang Terpenjara

"Apa salah jika sama-sama mengenal tuhan walau panggilan berbeda?"

Itulah sepenggal kalimat dari curhatan pemudi disebuah blognya. Sebuah pertanyaan demi sebuah pernyataan cinta. Bukan sembarang cinta, Kawan! Temanya lawas tapi membuat kuping panas. Cinta pasangan berbeda agama. Gugatan yang dilayangkan kepada manusia sekitarnya. Kadang Tuhan disinggung juga dalam curhatnya. Bukan hal baru memang. Tetapi nasib menghantarkan si penulis pada gelanggang yang lebih luas. Dari sekedar tuangan hati menjadi tontonan lautan pasang mata. Gugatannya menyeruak tak sekedar dunia maya, tetapi menjadi dikemas dalam hiburan. Sekarang gugatan itu mungkin diamini  muda mudi lainnya, hingga semakin membahana. Layak mereka berterima kasih kepada Hanung bramantyo yang mengangkat kisah curhat ini menjadi wacana yang mengangkasa.  Cinta tapi Beda!

Hakikatnya mereka memuja Cinta. Cinta adalah tujuan tertinggi. Bukan cinta yang salah, tapi meletakkannya yang keliru. Agama dipandang sebagai penghalang. Batasan-batasan yang membelenggu. Perbedaan agama hanyalah bayangan semu. Semua toh menuju Tuhan yang sama. Disini mulai tercium bau busuk pluralisme agama. Bukan-bukan, mereka bukan sarjana perbandingan agama, atau kuliah tafsir quran yang dibimbing pakar agama dari Leiden, Chicago atau Ciputat. Mereka hanyalah muda-mudi yang terseret gelombang kebebasan. Agama yang harusnya menjadi bendungan malah diruntuhkan.

Mereka bukan pula tak percaya Tuhan. Apalagi membunuhNya. Tak sampai kesana. Mereka percaya Tuhan itu ada. Bahkan hati merasa ingin dekat denganNya. Sayangnya, hati tak bergandengan dengan pikiran. Tuhan bagi mereka hanya perkara spiritualitas belaka. Tuhan yang membiarkan manusia bebas berkelana dalam kenaifan pikirannya. Tuhan yang Maha baik itu membiarkan manusia menentukan baik dan buruk sendiri. Tuhan baginya, tak ikut mencampuri benar dan salah. Bahkan Tuhan pun ikut dalam gerbong pemuja cinta. Tuhan bagi mereka ada pojok sana. Tak mencampuri  kehidupan manusia. Tuhan yang tak kuasa, hanya terbelenggu oleh dikte-dikte manusia. Tuhan bukan penetap hukum. malah tuhan yang terhukum. Terkurung penjara buatan manusia bernama kebebasan.  

Mereka tak sudi dianggap tak beragama. "Enak, saja," cetus mereka. "Saya syahadat, sholat, puasa kok." Tapi Cinta berbeda agama bukan hal yang prinsip. Semua agama sama teriak mereka. "Kita hanya memanggil namanya dengan cara yang berbeda-beda. Untuk apa Tuhan Ciptakan perbedaan jika hanya jadi penghalang?,"teriak mereka. Suara mereka begitu lantang hingga menutupi akalnya. Tak terpikir oleh mereka, manusialah yang memilih untuk berbeda. Memlih jalan (agama) masing-masing. Memisahkan diri dari jalan yang dikehendakiNya. Semua ujian Tuhan itu malah dianggap sebagai rahmatNya. Maka ketika Tuhan hanya merdihai hubungan cinta yang berbaris di jalan-Nya, mereka layangkan gugatan kepada Tuhan. Mereka seret Tuhan kepada sebuah pengadilan atas nama cinta. Larangan nikah beda agama mereka vonis berbahaya! Kemudian dijebloskan DIA dalam sebuah penjara bernama kebebasan. Biarkan Tuhan meringkuk disana! jangan campuri urusan manusia. Kata mereka, Tuhan itu suci, tapi nyatanya, mereka biarkan FirmanNya sunyi dalam sendiri.

Tuhan dimata mereka lebih mirip Hantu. Yang tak jelas pesan dan keinginanNya. Mereka lebih suka menerka-nerka Tuhan. Menafsirkan sendiri-sendiri kehendakNya. Tuhan dan kehendakNya lebih misteri ketimbang teka-teki. Di isi dan di revisi, sesuai nafsu pribadi. Firman dan wahyu dianggap lalu. Tak sesuai dengan zaman yang sedang melaju.

Maka tak heran kalau agama dihujat. Alih-alih menjadi pandangan hidup, agama tak lebih dari sebuah mantel. Di pakai sesuai cuaca hati. Namun lebih sering digantung dibalik pintu hawa nafsu. Hukum dan aturan mereka campakkan. Merasa hukum agama tak selamanya. Syahadat tak lebih sekedar syarat dalam sholat. Timbangan kebenaran tak boleh lebih berat dari pada cinta. Ketika cinta berbeda agama dikecam , mereka seringkali mencaci saudara seagama diseberangnya. Jangan kalian bicara atas nama Tuhan! Tuhan itu pemuja cinta. Tuhan itu berdiri digarda terdepan dalam kebebasan. Tak sadar mereka pun sedang berbicara atas namaNya.


Tanpa disadari, sekali lagi, merekalah yang mendikte Tuhan. Menjadikan hawa nafsu sebagai Tuhannya. Mungkin mereka lupa, ketika sholat, mereka bersujud. Kepala (akal) yang mereka agungkan, dipaksa tersungkur ditanah. Wajah yang mereka banggakan dipaksa mencium tanah. Semua takluk dihadapan Tuhan. Harusnya hanya Tuhan yang berdaulat Tapi apa daya, tak ada setitik pun hal tadi di ingatnya. Pikirannya tenggelam dalam lautan euforia kebebasan dan gelombang sekularisme. Membawa perahu cinta beda agama sebagai salah satu bahteranya. (beggy riskiyansyah)

Rabu, 06 November 2013

Cinta Itu Seperti Menunggu Bis Saja


Sebuah bis datang, dan kau bilang, "Wah...terlalu sumpek dan panas, nggak bisa duduk nyaman nih! aku tunggu bis berikutnya saja"

Kemudian, bis berikutnya datang. Kamu melihatnya dan berkata, "Aduh bisnya kurang asik nih dan kok gak cakep begini... nggak mau ah.."
Bis selanjutnya datang, cool dan kamu berminat, tapi dia seakan-akan tidak melihatmu dan melewatimu begitu saja.
Bis keempat berhenti di depan kamu. Bis itu kosong, cukup bagus, tapi kamu bilang,
"Nggak ada AC nih, gua bisa kepanasan". Maka kamu membiarkan bis keempat pergi..

Waktu terus berlalu, kamu mulai sadar bahwa kamu bisa terlambat pergi ke kantor. Ketika bis kelima datang, kau sudah tak sabar, kamu langsung melompat masuk ke dalamnya. Setelah beberapa lama, kamu akhirnya sadar kalau kamu salah menaiki bis. Bis tersebut jurusannya bukan yang kamu tuju!
Dan kamu baru sadar telah menyiakan waktumu sekian lama..

Pesan moral yang terkandung dalam cerita diatas, sering kali seseorang menunggu orang yang benar-benar 'ideal' untuk menjadi pasangan hidupnya. Padahal tidak ada orang yang 100% memenuhi keidealan kita. Dan anda pun sekali-kali tidak akan pernah bisa menjadi 100% sesuai keinginan dia.

Tidak ada salahnya memiliki persyaratan untuk 'calon' pendamping, tapi tidak ada salahnya juga memberi kesempatan kepada yang berhenti di depan kita. Tentunya dengan jurusan yang sama seperti yang kita tuju. Apabila ternyata memang tidak cocok, apa boleh buat.. tapi kamu masih bisa berteriak 'Kiri !' dan keluar dengan sopan.

Maka memberi kesempatan pada yang berhenti di depanmu, semuanya bergantung pada keputusanmu. Daripada kamu harus jalan kaki sendiri menuju kantormu, dalam arti menjalani hidup ini tanpa kehadiran orang yang dikasihi.

Cerita ini juga berarti, kalau kamu benar-benar menemukan bis yang kosong, kamu sukai dan bisa kamu percayai, dan tentunya sejurusan dengan tujuanmu, kamu dapat berusaha sebisamu untuk menghentikan bis tersebut di depanmu. Untuk dia memberi kesempatan kamu masuk ke dalamnya. Karena menemukan yang seperti itu adalah suatu berkah yang sangat berharga dan sangat berarti. Bagimu sendiri, dan bagi dia.

Lantas, bis seperti apa yang kamu tunggu?



Minggu, 14 April 2013

DUA BOCAH SUPER DI JEMBATAN SETIABUDI KUNINGAN

Tanpa disadari terkadang sikap apatis menyertai saat langkah kaki mengarungi tuk coba taklukkan ibukota negri ini. Semoga kita selalu diingatkan.

Sekedar berbagi cerita dari forum inspirasi untuk dunia Kaskus dalam keindahan hari ini :

Siang itu February 6, 2008 , tanpa sengaja, saya bertemu dua manusia super. Mereka mahluk mahluk kecil , kurus ,kumal berbasuh keringat. Tepatnya diatas jembatan penyeberangan Setiabudi , dua sosok kecil berumur kira kira delapan tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam.

Saat menyeberang untuk makan siang mereka menawari saya tissue diujung jembatan, dengan keangkuhan khas penduduk Jakarta saya hanya mengangkat tangan lebar lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan ucapan "Terima kasih Oom !". Saya masih tak menyadari kemuliaan mereka dan cuma mulai membuka sedikit senyum seraya mengangguk kearah mereka.

Kaki - kaki kecil mereka menjelajah lajur lain diatas jembatan , menyapa seorang laki laki lain dengan tetap berpolah seorang anak kecil yang penuh keceriaan, laki laki itupun menolak dengan gaya yang sama dengan saya,lagi lagi sayup sayup saya mendengar ucapan terima kasih dari mulut kecil mereka. Kantong hitam tampat stok tissue dagangan mereka tetap teronggok disudut jembatan tertabrak derai angin Jakarta . Saya melewatinya dengan lirikan kearah dalam kantong itu , duapertiga terisi tissue putih berbalut plastik transparan .

Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama dan mendapati mereka tengah mendapatkan pembeli seorang wanita , senyum diwajah mereka terlihat berkembang seolah memecah mendung yang sedang manggayut langit Jakarta.

"Terima kasih ya mbak .semuanya dua ribu lima ratus rupiah!" tukas mereka, tak lama si wanita merogoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah sepuluh ribu rupiah .

" Maaf , nggak ada kembaliannya ..ada uang pas nggak mbak ? " mereka menyodorkan kembali uang tersebut. Si wanita menggeleng, lalu dengan sigapnya anak yang bertubuh lebih kecil menghampiri saya yang tengah mengamati mereka bertiga pada jarak empat meter.

" Oom boleh tukar uang nggak , receh sepuluh ribuan ?" suaranya mengingatkan kepada anak lelaki saya yang seusia mereka. Sedikit terhenyak saya merogoh saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian food court sebesar empat ribu rupiah .

" Nggak punya , tukas saya !" lalu tak lama siwanita berkata " ambil saja kembaliannya , dik !" sambil berbalik badan dan meneruskan langkahnya kearah ujung sebelah timur.

Anak ini terkesiap , ia menyambar uang empat ribuan saya dan menukarnya dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakkannya kegenggaman saya yang masih tetap berhenti , lalu ia mengejar wanita tersebut untuk memberikan uang empat ribu rupiah tadi. Si wanita kaget , setengah berteriak ia bilang "sudah buat kamu saja , nggak apa..apa ambil saja !", namun mereka berkeras mengembalikan uang tersebut. " maaf mbak , Cuma ada empat ribu , nanti kalau lewat sini lagi saya kembalikan !" Akhirnya uang itu diterima siwanita karena si kecil pergi meninggalkannya.

Tinggallah episode saya dan mereka , uang sepuluh ribu digenggaman saya tentu bukan sepenuhnya milik saya . mereka menghampiri saya dan berujar " Om, bisa tunggu ya , saya kebawah dulu untuk tukar uang ketukang ojek !".

" eeh .nggak usah ..nggak usah ..biar aja ..nih !" saya kasih uang itu ke sikecil, ia menerimanya tapi terus berlari kebawah jembatan menuruni tangga yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek.

Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak yang satunya ,"Nanti dulu Om , biar ditukar dulu ..sebentar "
" Nggak apa apa , itu buat kalian " Lanjut saya
" jangan ..jangan Om , itu uang om sama mbak yang tadi juga " anak itu bersikeras

" Sudah ..saya Ikhlas , mbak tadi juga pasti ikhlas ! saya berusaha mem-bargain, namun ia menghalangi saya sejenak dan berlari keujung jembatan berteriak memanggil temannya untuk segera cepat , secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan berlari kearah saya.

" Ini deh om , kalau kelamaan , maaf .." ia memberi saya delapan pack tissue

" Buat apa ?" saya terbengong

" Habis teman saya lama sih Om , maaf , tukar pakai tissue aja dulu " walau dikembalikan ia tetap menolak .

Saya tatap wajahnya , perasaan bersalah muncul pada rona mukanya . Saya kalah set , ia tetap kukuh menutup rapat tas plastic hitam tissuenya . Beberapa saat saya mematung di sana , sampai sikecil telah kembali dengan genggaman uang receh sepuluh ribu , dan mengambil tissue dari tangan saya serta memberikan uang empat ribu rupiah.

"Terima kasih Om , !"..mereka kembali keujung jembatan sambil sayup sayup terdengar percakapan " Duit mbak tadi gimana ..? " suara kecil yang lain menyahut " Lu hafal kan orangnya , kali aja ketemu lagi ntar kita kasihin..." percakapan itu sayup sayup menghilang , saya terhenyak dan kembali kekantor dengan seribu perasaan.

Tuhan ..Hari ini saya belajar dari dua manusia super , kekuatan kepribadian mereka menaklukan Jakarta membuat saya terenyuh , mereka berbalut baju lusuh tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra, mereka tahu hak mereka dan hak orang lain, mereka berusaha tak meminta minta dengan berdagang Tissue.

Dua anak kecil yang bahkan belum baligh , memiliki kemuliaan diumur mereka yang begitu belia. 

YOU ARE ONLY AS HONORABLE AS WHAT YOU DO
Engkau hanya semulia yang kau kerjakan.


Saya membandingkan keserakahan kita , yang tak pernah ingin rizki kita berkurang sedikitpun.

"Usia memang tidak menjamin kita menjadi bijaksana , kitalah yang memilih untuk menjadi bijaksana atau tidak"

Minggu, 03 Maret 2013

KISAH SUAMI ISTRI ''SETIA HINGGA AKHIR HAYAT''

Disebuah rumah sederhana yang asri tinggal sepasang suami istri yang sudah memasuki usia senja. Pasangan ini dikaruniai dua orang anak yang telah dewasa dan memiliki kehidupan sendiri yang mapan.

Sang suami merupakan seorang pensiunan sedangkan istrinya seorang ibu rumah tangga.Suami istri ini lebih memilih untuk tetap tinggal dirumah mereka menolak ketika putra-putri mereka menawarkan untuk ikut pindah bersama mereka.

Jadilah mereka, sepasang suami istri yang hampir renta itu menghabiskan waktu mereka yang tersisa dirumah yang telah menjadi saksi berjuta peristiwa dalam keluarga itu.

Suatu senja ba’da Isya disebuah mesjid tak jauh dari rumah mereka, sang istri tidak menemukan sandal yang tadi dikenakannya kemesjid tadi.

Saat sibuk mencari, suaminya datang menghampiri
“Kenapa Bu?”

Istrinya menoleh sambil menjawab “Sandal Ibu tidak ketemu Pa”.

“Ya udah pakai ini saja” kata suaminya sambil menyodorkan sandal yang dipakainya. walau agak ragu sang istri tetap memakai sandal itu dengan berat hati.

Menuruti perkataan suaminya adalah kebiasaannya.Ja rang sekali ia membantah apa yang dikatakan oleh sang suami.

Mengerti kegundahan istrinya, sang suami mengeratkan genggaman pada tangan istrinya.

“Bagaimanapun usahaku untuk berterimakasih pada kaki istriku yang telah menopang hidupku selama puluhan tahun itu, takkan pernah setimpal terhadap apa yang telah dilakukannya.

Kaki yang selalu berlari kecil membukakan pintu untuk-ku saat aku pulang, kaki yang telah mengantar anak-anakku ke sekolah tanpa kenal lelah, serta kaki yang menyusuri berbagai tempat mencari berbagai kebutuhanku dan anak-anakku”.

Sang istri memandang suaminya sambil tersenyum dengan tulus dan merekapun mengarahkan langkah menuju rumah tempat bahagia bersama….

Karena usia yang telah lanjut dan penyakit diabetes yang dideritanya, sang istri mulai mangalami gangguan penglihatan. Saat ia kesulitan merapikan kukunya, sang suami dengan lembut mengambil gunting kuku dari tangan istrinya.

Jari-jari yang mulai keriput itu dalam genggamannya mulai dirapikan dan setelah selesai sang suami mencium jari-jari itu dengan lembut dan bergumam
“Terimakasih ya, Bu ”.

“Tidak, Ibu yang terimakasih sama Bapa, telah membantu memotong kuku Ibu” tukas sang istri tersipu malu.

“Terimakasih untuk semua pekerjaan luar biasa yang belum tentu sanggup aku lakukan. Aku takjub betapa luar biasanya Ibu. Aku tau semua takkan terbalas sampai kapanpun” kata suaminya tulus.

Dua titik bening menggantung disudut mata sang istri “Bapa kok bicara begitu?
Ibu senang atas semuanya Pa, apa yang telah kita lalui bersama adalah luar biasa.

Ibu selalu bersyukur atas semua yang dilimpahkan pada keluarga kita, baik ataupun buruk. Semuanya dapat kita hadapi bersama.”

Hari Jum’at yang cerah setelah beberapa hari hujan. Siang itu sang suami bersiap hendak menunaikan ibadah Shalat Jum’at,

Setelah berpamitan pada sang istri, ia menoleh sekali lagi pada sang istri menatap tepat pada matanya sebelum akhirnya melangkah pergi.

Tak ada tanda yang tak biasa di mata dan perasaan sang istri hingga saat beberapa orang mengetuk pintu membawa kabar yang tak pernah diduganya.

Ternyata siang itu sang suami tercinta telah menyelesaikan perjalanannya di dunia.
Ia telah pulang menghadap sang penciptanya ketika sedang menjalankan ibadah Shalat Jum’at, tepatnya saat duduk membaca Tahyat terakhir.

Masih dalam posisi duduk sempurna dengan telunjuk kearah Kiblat, ia menghadap Yang Maha Kuasa.

“Subhanallah sungguh akhir perjalanan yang indah” gumam para jama’ah setelah menyadari kalau dia telah tiada.

Sang istri terbayang tatapan terakhir suaminya saat mau berangkat kemesjid.
Terselip tanya dalam hatinya, mungkinkah itu sebagai tanda perpisahan pengganti ucapan selamat tinggal.

Ataukah suaminya khawatir meninggalkannya sendiri didunia ini. Ada gundah menggelayut dihati sang istri. Walau masih ada anak-anak yang akan mengurusnya,

Tapi kehilangan suami yang telah didampinginya selama puluhan tahun cukup membuatnya terguncang. Namun ia tidak mengurangi sedikitpun keikhlasan dihatinya yang bisa menghambat perjalanan sang suami menghadap Sang Khalik.

Dalam do’a dia selalu memohon kekuatan agar dapat bertahan dan juga memohon agar suaminya ditempatkan pada tempat yang layak.

Tak lama setelah kepergian suaminya, sang istri bermimpi bertemu dengan suaminya.
Dengan wajah yang cerah sang suami menghampiri istrinya dan menyisir rambut sang istri dengan lembut. “Apa yang Bapak lakukan?’ tanya istrinya senang bercampur bingung.

“Ibu harus kelihatan cantik, kita akan melakukan perjalanan panjang. Bapak tidak bisa tanpa Ibu, bahkan setelah kehidupan didunia berakhir,Bapak selalu butuh Ibu. Saat disuruh memilih pendamping Bapak bingung, kemudian bilang pendampingnya tertinggal, Bapakpun mohon izin untuk menjemput Ibu.”

Istrinya menangis sebelum akhirnya berkata “Ibu ikhlas Bapak pergi, tapi Ibu juga tidak bisa bohong kalau Ibu takut sekali tinggal sendiri.. Kalau ada kesempatan mendampingi Bapa sekali lagi dan untuk selamanya tentu saja tidak akan Ibu sia-siakan."

Sang istri mengakhiri tangisannya dan menggantinya dengan senyuman.
Senyuman indah dalam tidur panjang selamanya….

Subhanallah..

KISAH NYATA KEAJAIBAN AYAT KURSI DI AMERIKA


Ini kisah nyata dari Amerika (US) sekitar tahun 2006. Pengalaman nyata seorang muslimah asal asia yang mengenakan jilbab.

Suatu hari wanita ini berjalan pulang dari bekerja dan agak kemalaman ….. suasana jalan setapak agak sepi …. dia melewati jalan pintas yang agak gelap dan sendirian …..

Di ujung jalan pintas itu dia melihat ada sosok pria kaukasian, pasti orang amerika pikirnya …. tapi perasaan wanita ini agak was-was karena sekilas raut pria itu agak mencurigakan seolah ingin mengganggunya ….

Dia berusaha tetap tenang dan membaca kalimah Allah …. kemudian dia lanjutkan dengan terus membaca ayat kursi berulang-ulang seraya sungguh-sungguh memohon perlindungan Allah Subhanahu Wa Ta'ala …..

Meski tidak mempercepat langkahnya, ketika ia melintas di depan pria berkulit putih itu, ia tetap berdoa … sekilas ia melirik ke arah pria itu ….. orang itu asik dengan rokoknya … dan seolah tidak memperdulikannya ….(Alhamdulillah …. serunya dalam hati …)

Keesokan harinya .. ia lihat berita kriminal, seorang wanita melintas di jalan yang sama dengan jalan yang ia lintasi semalam … dan wanita itu melaporkan pelecehan seksual yang dialaminya dilorong gelap itu … karena begitu ketakutan, ia tidak melihat jelas pelaku yang katanya sudah berada di lorong itu ketika perempuan korban ini melintas jalan shorcut itu …..

Hati muslimah ini pun tergerak karena wanita tadi melintas jalan shorcut itu hanya beberapa menit setelah ia melintas di sana … dalam berita itu dikabarkan wanita itu tidak bisa mengidentifikasi pelaku dari kotak kaca, dari beberapa orang yang dicurigai polisi.

Muslimah ini pun memberanikan diri datang ke kantor polisi, dan memberitahukan bahwa rasanya ia bisa mengenali sosok pelaku pelecehan kepada wanita tsb, karena ia Menggunakan jalan yang sama sesaat sebelum wanita tadi melintas.

Melalui kamera rahasia akhirnya muslimah ini pun bisa menunjuk salah seorang yg diduga sebagai pelaku, ia yakin bahwa pelakunya adalah pria yang ada di lorong itu dan mengacuhkannya sambil terus merokok …

Melalui interogasi polisi akhirnya orang yg diyakini oleh muslimah tadi mengakui perbuatannya … tergerak oleh rasa ingin tau, muslimah ini menemui pelaku tadi dan didampingi oleh polisi …

Muslimah : apa kau melihat saya, saya juga melewati jalan itu beberapa menit sebelum wanita yang kau perkosa itu ? mengapa anda hanya menggangunya tapi tidak menggangguku ? mengapa anda tidak berbuat apa apa padahal waktu itu aku sendirian ?

Penjahat : tentu saja saya melihatmu malam tadi, anda berada disana malam tadi beberapa menit sebelum wanita itu, saya tidak berani mengganggu anda, aku melihat ada dua orang besar dibelakang anda pada waktu itu … satu di sisi kiri dan satu di sisi kanan Anda …

Muslimah itu tidak bisa melanjutkan kata-katanya .. kalbunya penuh syukur dan terus mengucap Alhamdulillah. Dengkulnya bergetar mendengar penjelasan pelaku kejahatan itu, ia langsung menyudahi interview itu dan minta diantar keluar dari ruang itu oleh polisi ….

Dalam hatinya ia tiada henti bersyukur … ya Allah terimakasih .. mungkin itulah perlindungan dan hikmah karena ia tiada berhenti membaca ayat kursi selama ia ketakutan dalam perjalanan pulang tersebut .

subhanallah..Maha kuasa Allah dengan segala keagungan dan kekuatan gaib-Nya …

Wallahu’alam bishshawab

ISTRI KU..BERHENTILAH MENGELUH

Bismillahirrahmanirrahiim..

Kisah ini menceritakan sepasang suami istri yang memiliki tujuh orang anak. Suatu hari, suaminya melihat sang istri sedang menangis sambil memasak makanan.

Melihat hal itu, suami bertanya, “Wahai Istriku, apa yang terjadi denganmu? Apa yang membuatmu menangis?”

“Aku menangis karena merasa sangat lelah dalam mengurus keluarga dan melakukan semua pekerjaan rumah,” sahutnya. “Aku mengurus tujuh anak kita dengan berbagai tabiat mereka. Aku harus menyediakan makanan, membereskan rumah, mencuci baju yang sangat banyak. Aku bekerja 24 jam sehari. Rasanya, aku tidak sanggup lagi untuk melakukan semua ini.”

Sang suami tersenyum. “Apa yang harus aku lakukan?” tanyanya.

“Tolong carikan aku budak perempuan yang dapat membantuku mengurus semuanya.”

“Tentu saja, aku akan mencarikannya. Tapi, tolong dengarkan aku sebentar saja,” kata sang suami sambil membelai istrinya dengan penuh kasih sayang.

“Allah senantiasa membantu hamba-Nya yang tidak pernah berputus asa dan ikhlas dalam mengerjakan apa pun yang mengandung kebaikan. Kau adalah seorang istri yang sangat sabar dalam menjaga keluargamu, seorang ibu yang menjadi teladan bagi ketujuh anakmu, dan menjadi pendampingku yang salihah dengan beratnya tugas-tugasmu. Aku bisa saja mencarikan seorang Pembantu untuk meringankan pekerjaanmu. Namun, jika kau tetap mengerjakan semua kebaikan itu untuk keluarga kita maka Allah akan menghapus semua salah dan dosamu.” Ujar suaminya.

Sang suami kemudian berkata lagi, “Istriku yang salihah, perempuan yang tidak pernah lelah menjaga keluarganya dan ikhlas dengan apa yang dilakukannya, Allah akan menetapkan setiap butiran keringatnya menjadi kebaikan yang dapat melebur keburukannya sekaligus mengangkat derajatnya.”

Sang Suami membelai Istrinya yang masih terisak menahan malu, lalu diajaknya duduk santai di ruang dapur mungil yang sangat sederhana itu, lalu Sang Suami melanjutkan nasehatnya,

“ coba ingat kembali Wasiat Rosulullah SAW kepada Fatimah putri Beliau, yang dipersunting Ali Bin Abi Thalib yang sangat miskin, yang ketika itu juga sedang mengeluh kepada Ayahnya Rosulullah SAW karena tangannya yang dulunya halus kini berubah menjadi kasar dan lecet-lecet karena setiap hari harus menumbuk gandum sendiri, mengolah dan memasaknya. Ada 10 WASIAT Beliau kepada Putrinya :

1.Wahai Fatimah ! Sesungguhnya wanita yang membuat tepung untuk suami dan anak-anaknya, kelak Allah akan tetapkan baginya kebaikan dari setiap biji gandum yang diadonnya, dan juga Allah akan melebur kejelekan serta meningkatkan derajatnya.

2.Wahai Fatimah ! Sesungguhnya wanita yang berkeringat ketika menumbuk tepung untuk suami dan anak-anaknya, niscaya Allah akan menjadikan antara neraka dan dirinya tujuh tabir pemisah.

3.Wahai Fatimah ! Sesungguhnya wanita yang meminyaki rambut anak-anaknya lalu menyisirnya dan kemudian mencuci pakaiannya, maka Allah akan tetapkan pahala baginya seperti pahala memberi makan seribu orang yang kelaparan dan memberi pakaian seribu orang yang telanjang.

4.Wahai Fatimah ! Sesungguhnya wanita yang membantu kebutuhan tetangga-tetangganya, maka Allah akan membantunya untuk dapat meminum Telaga Kautsar pada hari kiamat nanti.

5.Wahai Fatimah ! Yang lebih utama dari seluruh keutamaan di atas adalah keridhaan suami terhadap istri. Andaikata suamimu tidak ridha kepadamu,maka aku tidak akan mendoakanmu. Ketahuilah Fatimah, Kemarahan suami adalah kemurkaan Allah.

6.Wahai Fatimah ! Disaat seorang wanita hamil, maka malaikat memohonkan ampunan baginya, dan Allah tetapkan baginya setiap hari seribu kebaikan, serta melebur seribu kejelakan. Ketika seorang wanita merasa sakit akan melahirkan, maka Allah tetapkan pahala baginya sama dengan pahala para Pejuang Allah. Disaat seorang wanita melahirkan kandungannya, maka bersihlah dosa-dosanya seperti ketika dia dilahirkan dari kandungan ibunya. Disaat seorang wanita meninggal karena melahirkan, maka dia tidak akan membawa dosa sedikit pun, didalam kubur akan mendapat taman yang indah yang merupakan bagian dari taman surga. Allah memberikan padanya pahala yang sama dengan pahala seribu orang yang melaksanakan ibadah haji dan umrah, dan seribu malaikat memohonkan ampunan baginya hingga hari kiamat.

7.Wahai Fatimah! Disaat seorang istri melayani suaminya selama sehari semalam, dengan rasa senang dan ikhlas, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya serta memakaikan pakaian padanya dihari kiamat berupa pakaian yang serba hijau, dan menetapkan baginya setiap rambut pada tubuhnya seribu kebaikan. Allahpun akan memberikan kepadanya pahala seratus kali ibadah haji dan umrah.

8.Wahai Fatimah! Disaat seorang istri tersenyum dihadapan suaminya, maka Allah akan memandangnya dengan pandangan penuh kasih.

9.Wahai Fatimah! Disaat seorang istri membentangkan alas tidur untuk suaminya dengan rasa senang hati, maka para malaikat yang memanggil dari langit menyeru wanita itu agar menyaksikan pahala amalnya, dan Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.

10.Wahai Fatimah! Disaat seorang wanita meminyaki kepala suami dan menyisirnya, meminyaki jenggotnya dan memotong kumisnya serta kuku-kukunya, maka Allah akan memberi minuman yang dikemas indah kepadanya, yang didatangkan dari sungai-sungai surga. Allah pun akan mempermudah sakaratul maut baginya, serta menjadikan kuburnya bagian dari taman surga. Allah pun menetapkan baginya bebas dari siksa neraka serta dapat melintasi shirathal mustaqim dengan selamat.

Istrinya pun menangis karena merasa malu. Sejak itu, dia tak pernah lagi mengeluh.

Subhaanallah, wasiat ini merupakan mutiara termahal nilainya, khususnya bagi setiap istri yang mendambakan kesalehan.

Betapa Agung dan Mulianya Posisi Wanita dalam rumah tangga ketia ia rela dan ikhlas menjalani Fitrahnya sebagai seorang Istri.

Wallahu’alam bishshawab

Sabtu, 02 Maret 2013

Kisah Inspirasi "Ayah dan Burung Gagak"

Pada suatu sore seorang ayah bersama anaknya yang baru saja menamatkan pendidikan tinggi duduk berbincang-bincang di halaman sambil memperhatikan suasana di sekitar mereka.
Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pohon. Si ayah lalu menunjuk ke arah gagak sambil bertanya, “Nak, apakah benda tersebut?”
“Burung gagak,” jawab si anak.
Si ayah mengangguk-angguk, namun beberapa saat kemudian mengulangi lagi pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi lalu menjawab dengan sedikit keras.
“Itu burung gagak ayah!”

Tetapi sejenak kemudian si ayah bertanya lagi pertanyaan yang sama. Si anak merasa agak marah dengan pertanyaan yang sama dan diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih keras, “BURUNG GAGAK!!”
Si ayah terdiam seketika. Namun tidak lama kemudian sekali lagi mengajukan pertanyaan yang sama sehingga membuatkan si anak kehilangan kesabaran dan menjawab dengan nada yang ogah-ogahan menjawab pertanyaan si ayah, “Gagak ayah.......”.
Tetapi kembali mengejutkan si anak, beberapa saat kemudian si ayah sekali lagi membuka mulut hanya untuk bertanyakan pertanyaan yang sama. Dan kali ini si anak benar-benar kehilangan kesabaran dan menjadi marah.
 “Ayah!!! saya tidak mengerti ayah mengerti atau tidak. Tapi sudah lima kali ayah menanyakan pertanyaan tersebut dan sayapun sudah memberikan jawabannya. Apakah yang ayah ingin saya katakan???? Itu burung gagak, burung gagak ayah.....”, kata si anak dengan nada yang begitu marah.

Si ayah kemudian bangkit menuju ke dalam rumah meninggalkan si anak yang terheran-heran. Sebentar kemudian si ayah keluar lagi dengan membawa sesuatu di tangannya. Dia mengulurkan benda itu kepada anaknya yang masih marah dan bertanya-tanya. Ternyata benda tersebut sebuah diari lama.
“Coba kau baca apa yang pernah ayah tulis di dalam buku diary itu”, pinta si ayah.
Si anak taat dan membaca bagian yang berikut..........
“Hari ini aku di halaman bersama anakku yang genap berumur lima tahun. Tiba-tiba seekor gagak hinggap di pohon. Anakku terus menunjuk ke arah gagak dan bertanya, “Ayah, apakah itu?”.

Dan aku menjawab, “Burung gagak”.

Walau bagaimana pun, anak ku terus bertanya pertanyaan yang sama dan setiap kali aku menjawab dengan jawaban yang sama. Sampai 25 kali anakku bertanya demikian, dan demi rasa cinta dan sayang aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya. Aku berharap bahwa hal tersebut menjadi suatu pendidikan yang berharga.”


Setelah selesai membaca bagian tersebut si anak mengangkat muka memandang wajah si ayah yang kelihatan sayu.
Si ayah dengan perlahan bersuara, “ Hari ini ayah baru menanyakan kepadamu pertanyaan yang sama sebanyak lima kali, dan kau telah kehilangan kesabaran dan marah.”
 

Kisah Inspirasi "Seorang Suami yang Berbohong terhadap Istrinya"


Pernikahan itu telah berjalan empat (4) tahun, namun pasangan suami istri itu belum dikaruniai seorang anak. Dan mulailah kanan kiri berbisik-bisik: “kok belum punya anak juga ya, masalahnya di siapa ya? Suaminya atau istrinya ya?”. Dari berbisik-bisik, akhirnya menjadi berisik.

Tanpa sepengetahuan siapa pun, suami istri itu pergi ke salah seorang dokter untuk konsultasi, dan melakukan pemeriksaaan. Hasil lab mengatakan bahwa sang istri adalah seorang wanita yang mandul, sementara sang suami tidak ada masalah apa pun dan tidak ada harapan bagi sang istri untuk sembuh dalam arti tidak peluang baginya untuk hamil dan mempunyai anak.

Melihat hasil seperti itu, sang suami mengucapkan: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, lalu menyambungnya dengan ucapan: Alhamdulillah.

Sang suami seorang diri memasuki ruang dokter dengan membawa hasil lab dan sama sekali tidak memberitahu istrinya dan membiarkan sang istri menunggu di ruang tunggu perempuan yang terpisah dari kaum laki-laki.

Sang suami berkata kepada sang dokter: “Saya akan panggil istri saya untuk masuk ruangan, akan tetapi, tolong, nanti anda jelaskan kepada istri saya bahwa masalahnya ada di saya, sementara dia tidak ada masalah apa-apa.

Kontan saja sang dokter menolak dan terheran-heran. Akan tetapi sang suami terus memaksa sang dokter, akhirnya sang dokter setuju untuk mengatakan kepada sang istri bahwa masalah tidak datangnya keturunan ada pada sang suami dan bukan ada pada sang istri.

Sang suami memanggil sang istri yang telah lama menunggunya, dan tampak pada wajahnya kesedihan dan kemuraman. Lalu bersama sang istri ia memasuki ruang dokter. Maka sang dokter membuka amplop hasil lab, lalu membaca dan mentelaahnya, dan kemudian ia berkata: “… Oooh, kamu –wahai fulan- yang mandul, sementara istrimu tidak ada masalah, dan tidak ada harapan bagimu untuk sembuh.

Mendengar pengumuman sang dokter, sang suami berkata: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, dan terlihat pada raut wajahnya wajah seseorang yang menyerah kepada qadha dan qadar Allah SWT.

Lalu pasangan suami istri itu pulang ke rumahnya, dan secara perlahan namun pasti, tersebarlah berita tentang rahasia tersebut ke para tetangga, kerabat dan sanak saudara.

Lima (5) tahun berlalu dari peristiwa tersebut dan sepasang suami istri bersabar, sampai akhirnya datanglah detik-detik yang sangat menegangkan, di mana sang istri berkata kepada suaminya: “Wahai fulan, saya telah bersabar selama Sembilan (9) tahun, saya tahan-tahan untuk bersabar dan tidak meminta cerai darimu, dan selama ini semua orang berkata:” betapa baik dan shalihah-nya sang istri itu yang terus setia mendampingi suaminya selama Sembilan tahun, padahal dia tahu kalau dari suaminya, ia tidak akan memperoleh keturunan”. Namun, sekarang rasanya saya sudah tidak bisa bersabar lagi, saya ingin agar engkau segera menceraikan saya, agar saya bisa menikah dengan lelaki lain dan mempunyai keturunan darinya, sehingga saya bisa melihat anak-anakku, menimangnya dan mengasuhnya.

Mendengar emosi sang istri yang memuncak, sang suami berkata: “istriku, ini cobaan dari Allah SWT, kita mesti bersabar, kita mesti …, mesti … dan mesti …”. Singkatnya, bagi sang istri, suaminya malah berceramah di hadapannya.

Akhirnya sang istri berkata: “OK, saya akan tahan kesabaranku satu tahun lagi, ingat, hanya satu tahun, tidak lebih”.

Sang suami setuju, dan dalam dirinya, dipenuhi harapan besar, semoga Allah SWT memberi jalan keluar yang terbaik bagi keduanya.

Beberapa hari kemudian, tiba-tiba sang istri jatuh sakit, dan hasil lab mengatakan bahwa sang istri mengalami gagal ginjal.

Mendengar keterangan tersebut, jatuhnya psikologis sang istri, dan mulailah memuncak emosinya. Ia berkata kepada suaminya: “Semua ini gara-gara kamu, selama ini aku menahan kesabaranku, dan jadilah sekarang aku seperti ini, kenapa selama ini kamu tidak segera menceraikan saya, saya kan ingin punya anak, saya ingin memomong dan menimang bayi, saya kan … saya kan …”.

Sang istri pun bad rest di rumah sakit.

Di saat yang genting itu, tiba-tiba suaminya berkata: “Maaf, saya ada tugas keluar negeri, dan saya berharap semoga engkau baik-baik saja”.

“Haah, pergi?”. Kata sang istri.

“Ya, saya akan pergi karena tugas dan sekalian mencari donatur ginjal, semoga dapat”. Kata sang suami.

Sehari sebelum operasi, datanglah sang donatur ke tempat pembaringan sang istri. Maka disepakatilah bahwa besok akan dilakukan operasi pemasangan ginjal dari sang donatur.

Saat itu sang istri teringat suaminya yang pergi, ia berkata dalam dirinya: “Suami apa an dia itu, istrinya operasi, eh dia malah pergi meninggalkan diriku terkapar dalam ruang bedah operasi”.

Operasi berhasil dengan sangat baik. Setelah satu pekan, suaminya datang, dan tampaklah pada wajahnya tanda-tanda orang yang kelelahan.

Ketahuilah bahwa sang donatur itu tidak ada lain orang melainkan sang suami itu sendiri. Ya, suaminya telah menghibahkan satu ginjalnya untuk istrinya, tanpa sepengetahuan sang istri, tetangga dan siapa pun selain dokter yang dipesannya agar menutup rapat rahasia tersebut.

Dan subhanallah …

Setelah Sembilan (9) bulan dari operasi itu, sang istri melahirkan anak. Maka bergembiralah suami istri tersebut, keluarga besar dan para tetangga.

Suasana rumah tangga kembali normal, dan sang suami telah menyelesaikan studi S2 dan S3-nya di sebuah fakultas syari’ah dan telah bekerja sebagai seorang panitera di sebuah pengadilan di Jeddah. Ia pun telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an dan mendapatkan sanad dengan riwayat Hafs, dari ‘Ashim.

Pada suatu hari, sang suami ada tugas dinas jauh, dan ia lupa menyimpan buku hariannya dari atas meja, buku harian yang selama ini ia sembunyikan. Dan tanpa sengaja, sang istri mendapatkan buku harian tersebut, membuka-bukanya dan membacanya.

Hamper saja ia terjatuh pingsan saat menemukan rahasia tentang diri dan rumah tangganya. Ia menangis meraung-raung. Setelah agak reda, ia menelpon suaminya, dan menangis sejadi-jadinya, ia berkali-kali mengulang permohonan maaf dari suaminya. Sang suami hanya dapat membalas suara telpon istrinya dengan menangis pula.

Dan setelah peristiwa tersebut, selama tiga bulanan, sang istri tidak berani menatap wajah suaminya. Jika ada keperluan, ia berbicara dengan menundukkan mukanya, tidak ada kekuatan untuk memandangnya sama sekali.

(Diterjemahkan dari kisah yang dituturkan oleh teman tokoh cerita ini, yang kemudian ia tulis dalam email dan disebarkan kepada kawan-kawannya)

Selasa, 26 Februari 2013

True Story of Syafda


Kali ini saya akan berbagi sebuah kisah nyata yang dialami oleh teman saya yang bernama Syafda. Sumber cerita ini valid karena saya dapat langsung dari teman saya. Silahkan teman-teman ambil sisi positif dan hikmah yang terkandung dalam cerita ini sebagai tambahan ilmu dalam menjalani kehidupan kita yang akan datang.

True Story of Syafda

Cerita ini mengenai kisah cinta Saya dengan pasangan Saya yang sudah berjalan 6 tahun dan mudah2an akan menikah tahun depan (2013). Namun pernikahan itu seakan enggan mendatangi kami berdua, meskipun dia sudah menjadi istriku!

Awal Kisah
Saya dengan pasangan saya, sudah kenal hampir 6 tahun, yaitu pada 06 November 2012. Saya kelahiran 1987 dan dia 1989. Saya dan dia kuliah di PGSD di salah satu universtas ternama di kota Saya, dan dia adalah junior Saya. Saya BP 2005 dan dia BP 2006.

Kami memiliki banyak persamaan. Yaitu : kami sama2 anak ke-4 dari 4 bersaudara. Kakak tertua sama2 perempuan, kakak kedua sama2 laki2, dan kakak ketiga sama2 perempuan.
Saya tidak bakalan ngelepasin dia karena dia adalah wanita 1 dalam 1000 yang tentunya akan susah ditemui di zaman sekarang ini!

Alasannya..
Selain dia orangnya pendiam, pemalu, penyabar, lemah lembut, sopan, dan lain-lain. Dia itu orangnya muslimah banget, dari segi penampilan bahkan sikap. Dia lebih suka memakai rok panjang, hijab panjang, manset tangan, dan kaos kaki. Bahkan dia make itu walaupun berkendara jauh dengan motor saya. Kebetulan jarak rumah saya dengan kampung dia menempuh perjalanan 2,5 jam. Dan dia tetep duduk menyamping selama perjalanan itu!

Saya cuma dibolehkan datang ke rumah dia pas hari raya Idul Fitri aja. Selebihnya? Tidak boleh. Bahkan saya dan dia jarang sekali bertemu, paling banyak hanya 2 kali sebulan. Selebihnya banyak kami habiskan dengan berkomukasi lewat handphone.

Dengan dia dan keluarganya yang seperti itu, saya pun berharap yang terbaik untuk kita berdua. Dan saya berprinsip tidak akan menodai (walau cuma untuk memegang tangan) dia sampai kami sah secara agama dan hukum. Alhamdulillah..semuanya berjalan di jalur-Nya.

Kami pun diberikan banyak rezeki oleh Allah SWT. Saya diangkat menjadi PNS sebagai guru SD (lulus di ujian pertama CPNS Saya – tahun 2008) di kota saya dan dia menjadi guru SD honorer juga di kota saya. 

Singkat cerita, tanggal 1 Mei 2012, dia mengalami sakit yang berawal dari sakit biasa dan ringan saja, kayak demam dan sesak nafas. Namun..saat dia menelepon saya, saya ngerasa dia kesakitan banget! Saya pun menyuruh dia untuk pulang kampung, namun dia tidak kuat.
Tanggal 3 Mei 2012, dia pun merasa kuat untuk pulang kampung n memutuskan berangkat sepulang mengajar menggunakan angkutan umum. Selama dia berada di kampung, kita lebih sering berkomunikasi lewat telpon di malam hari. Saya menelpon dia sampai dia tertidur, karena memang begitulah kebiasaan dia kalo nelpon saya.
Sampai di tanggal 5 Mei 2012, Saya telponan dengan dia di sore hari. Beda dengan hari biasanya, tapi tetep, dia tertidur saat telponan dengan saya. Malam harinya, saya masih begadang ngetikin kerjaan nyokap buat dibawa ke luar kota besok, dan saya yang bakal nganterin nyokap ke luar kota dalam perjalanan hampir 3 jam.
Pada saat saya asyik mengetik, tiba-tiba hape saya berbunyi. Setelah saya liat, ternyata dia yang nelpon. Tapi kok aneh, tengah malam (kurang lebih pukul 12 malem) tidak seperti biasanya. Setelah saya angkat telpon, ternyata yang bicara bukan dia namun wanita lain yang juga menggunakan logat dari darah asal dia. Karena saya tidak mengerti, bingung, dan berpikir kalo ini salah sambung, akhirnya saya matikan telponnya.
Namun nomor dia nelpon lagi! Saya makin bingung. Saya angkat lagi, kali ini yang bicara adalah kakak perempuan dia. Kakak dia tanpa babibu, langsung nyuruh saya datang ke kota dia..SEKARANG JUGA!
“Tengah malam begini? Menempuh 2,5 jam perjalanan kesana dalam waktu cepat?”, pikir saya

Kakak dia minta saya datang secepatnya, karena..DIA SEKARAT di rumah sakit. Waduh, langsung lemes saya mendengarnya! Langsung saja saya sanggupin untuk menenangkan keluarga dia. Setelah menutup telpon, saya langsung menyampaikan berita tersebut ke nyokap (karena nyokap yang masih bangun).
Dengan kalimat terbata2, saya minta ijin ke nyokap buat malam itu berangkat ke kota dia. Alhamdulillah, nyokap ngijinin tapi dengan syarat, saya mesti bawa sepupu cewek saya kesana. Soalnya nyokap tidak mau saya ugal2an bawa motor karena kondisi hati yang sedang semrawut. Berangkatlah saya bareng sepupu saya tepat jam 12 malem ke kota dia.
Perjalanan yang biasanya 2,5 jam, saya tempuh dalam 1 jam saja! Kebetulan suasana tengah malem, jalanan sepi. Sepanjang perjalanan, mata saya tanpa sadar mengeluarkan air mata. Hati saya tidak karuan, hingga bawa motor pun tidak memperhatikan jalan. Beberapa kali sepupu saya terombang-ambing oleh gelombang jalanan, dan sepupu saya bilang supaya saya sabar dan tetap hati-hati.
Hanya 1 yang ada dalam pikiran saya, yaitu harus secepat mungkin sampai disana. SEBELUM.....
Selama perjalanan itu pulalah, keluarga dia selalu menelpon saya untuk menanyakan keberadaan saya. Telpon inilah yang semakin membuat saya takut, takut jika mendengarkan kabar yang tidak saya inginkan
Sesampai di RS, saya dan sepupu sudah ditunggu kakak perempuan dia di depan pintu gerbang RS. Saya pun ditunjukkan tempat dia berada. Ternyata semua keluarga dia udah berkumpul disana, tentunya juga kedua orang tua dia. Mata mereka terlihat bengkak, sepertinya sudah banyak mengeluarkan air mata.
Selanjutnya mata saya langsung menuju ke dia. Sungguh miris kawan, dia terlihat sudah tidak berdaya lagi dengan keringat yang bercucuran tiada henti. Baju yang dikenakan dia sudah terlihat sangat basah. Ditambah dengan selang di hidungnya yang terhubung ke tabung oksigen. Sungguh, saya tidak sanggup melihat penderitaan dia. Suaranya sayup2 sampai memanggil nama saya. Dengan keadaannya yang lemah, dia memanggilku untuk mendekatinya.

Dengan terbata2, dia menagih janji saya ke dia. Yap, MENIKAH! Saya dan dia udah yakin untuk menikah sejak 1 bulan bertemu. Saya yang sudah menyangka hal ini akan terjadi, sudah menyiapkan mas kawin di dalam saku celana, yaitu uang 100 ribu rupiah. Saya menatap sepupu saya, dan dia mengangguk tanda setuju. Akhirnya saya menyanggupi permintaan dia, yang bisa jadi ini adalah permintaan terakhir dia.
Mulailah saya dan bokap dia bersalaman, dan dia menyuruh semua keluarga bahkan pegawai RS untuk menyaksikan akad nikah ini! Bokap dia yang sudah berumur, terlihat kesulitan dalam membacakannya. Sudah lama bokap dia tidak melakukan itu, terakhir kali adalah 10 tahun yang lalu. Karena dia bersaudara berjarak hampir 10 tahun dengan kakaknya.
Setelah percobaan ketiga, akhirnya saya dan bokap dia melakukannya dengan lancar. Dia pun bertanya kepada para pegawai RS, sah atau tidak. Mereka menjawab..SAH! Alhamdulillah, akhirnya di tanggal 6 Mei 2012, Saya dan dia sudah SAH menjadi SUAMI-ISTRI. Walaupun hanya dengan mas kawin 100 ribu rupiah dan masih secara agama saja.
Kondisi dia pun terlihat mulai melemah setelah menjadi istri saya! Dia meminta saya untuk memeluknya. Saya ragu, karena terdapat banyak pasang mata yang melihatnya. Keluarga dia pun mengabulkan permintaannya! Saya pun memeluk dia, istri saya. Inilah pertama kali saya menyentuh dia, dan itupun secara halal. Di saat saya memeluk dia, dia mengatakan ke saya : “dalam kondisi seperti ini, saya ingin kamu peluk. Namun hal itu tidak mungkin jika kita belum menikah!” Saya pun mendekap lebih erat tubuhnya, biar bisa memindahkan panas tubuh ini dan menghilangkan keringatnya.

Tidak terasa, keadaannya semakin melemah. Dia meminta saya memanggilkan dokter wanita (ingat..WANITA, karena dia merasa risih jika berdua aja dengan dokter pria), sekalian saya disuruh mengisi administrasi di RS dengan status baru tentunya, SUAMI dia! Dia pun minta berbicara empat mata saja dengan sang dokter, saya dan keluarga lainnya disuruh keluar. Sedangkan dokter menutup tirai ruangan, yang membuat suasana semakin tak menentu. Kami menunggu dengan gelisah.
Setelah berbicara begitu lama, akhirnya sang dokter keluar. Saya berharap banyak dengan ucapan dokter wanita ini. Sang dokter pun berkata bahwa dia udah bisa dibawa pulang! Saya kaget, karena dia sempat didiagnosa mengalami penyakit jantung. Sudah 3 dokter ahli mengatakan hal itu dengan yakin. Inilah yang bikin dia sekarat! Namun sebelum dia dibawa pulang, hasil rontgen tidak menunjukkan apa2 alias dia sehat2 aja! BELIEVE IT OR NOT, tapi..itulah kenyataannya!
Trauma Istriku
Dalam keadaan lemah, dia pun pulang ke rumah, namun dia tidak mau dipisahkan dengan suaminya, yaitu saya. Dia mau saya naik mobil bersama dia. Saya pun meminta kepada sepupu saya untuk mengendarai motor saya ke rumah dia. Sesampainya di rumah dia, saya dan kakak laki2 dia membopong dia ke kamarnya. Tapi saat kami akan membaringkan dia ke tempat tidurnya, dia tidak mau. Dia masih trauma dengan pengalaman sakratul maut yang dilewatinya di tempat itu.
Keluarga dia pun meletakkan kasur di lantai, dekat tempat tidur dia. Kemudian dia pun dibaringkan diatas kasur tersebut. Dia tak mau melepaskan pegangannya pada tangan saya. Saya jadi salah tingkah, karena banyak keluarga dia yang melihat. Seperti mengerti dengan maksud dia, keluarga dia pun mengijinkan saya tidur dengan istri saya.
Dengan memanggil suami, dia mohon supaya saya tidak pulang dulu hari ini. Waduh, padahal besok saya mesti nganterin nyokap saya ngajar! Gimana nih? Tapi saya hilangkan itu semua, saya mau membahagiakan istri saya di hari pernikahan kita. Saya pun menyanggupi permintaan istri saya. Setelah dia tertidur, saya pun tertidur dengan pulasnya.
Pagi harinya, pukul 05.00, nyokap saya nelpon. Karena takut membangunkan dia, saya coba merogoh kantong celana tempat beradanya hape tanpa membangunkan dia. Saya angkat telpon dari nyokap, yang menanyakan kabar dia. Saya bilang kalo dia udah mendingan. Sebelum saya bilang, nyokap saya malah nyuruh saya untuk nginep disana. Nyokap pun berangkat ngajar pake angkutan umum. Saya pun mengucapkan terima kasih atas pengertian dari nyokap.
Oh iya saya lupa menjelaskan, sepupu saya yang cewek adalah temen sekelas dia dalam perkuliahan. Kebetulan, dia dan sepupu saya juga merupakan teman akrab. Mereka berdua sedang mengurus wisuda S1 transfer. Dia meminta bantuan pada sepupu saya untuk mengurus kelengkapan wisudanya. Sepupu saya mau dan mengajak saya pulang. Tapi dia melarang saya pulang! Karena masih membutuhkan kehadiran saya dalam kondisinya yang seperti itu. Akhirnya saya antarkan sepupu saya sampai ke angkutan umum menuju kota saya. Sebelum angkutannya berangkat, saya berpesan kepada sepupu saya untuk merahasiakan pernikahan saya.
Status Baruku
Setelah seharian menemani dia, istri saya, setelah ashar saya ijin untuk pulang ke rumah. Dia mengijinkan Saya pulang, dengan syarat, besok kembali lagi. Saya sebagai suami dia tentu menginginkan itu juga! Saya pun berangkat pulang ke rumah dengan membawa status baru, yaitu suami dia.
Sesampainya di rumah, saya bertekad untuk membicarakan pernikahan saya dengan dia kepada kedua ortu saya. Saya pun menunggu kedatangan nyokap datang dari luar kota. Begitu sampainya nyokap di rumah, saya pun menyambutnya dengan bahagia. Saya biarkan sejenak nyokap untuk beristirahat setelah menempuh perjalanan yang jauh.
Ketika saya mendapatkan keadaan yang pas, saya ijin masuk ke kamar ortu saya. Ortu saya mulai menanyakan tentang kejadian malam itu. Saya pun mulai bercerita dengan terbata2, termasuk mengenai pernikahan itu. Ortu saya kaget bukan kepalang! Saya pun diomelin ortu karena saya dianggap mengambil keputusan tanpa pikir panjang.
Saat itu emang saya tidak pikir panjang lagi ketika dia minta saya menikahinya (karena memang inilah yang saya inginkan). Saya berharap dengan menikahi dia, dia ada semangat baru untuk melewati masa sulitnya dan kemudian menjalani hidup sebagai istri saya.
Mulailah saya bingung, karena ditambah keluarga dia yang mendesak saya untuk menikahi dia secara hukum. Itu semua bukan tanpa alasan, karena pernikahan kami di RS sudah tersebar di penjuru kota dia. Ternyata bukan hanya itu, efeknya lebih besar lagi. Kabar pernikahan kami juga sampai di kota saya! Salah seorang rekan kerja saya menanyakan kebenaran kabar itu. Saya menjawab dengan tegas tanpa ragu, kalo itu tidak benar sehingga rekan kerja saya pun mempercayainya. Saya tidak lupa untuk mengatakan kepadanya, jangan sampai kabar ini diberitahukan ke rekan yang lain.
Tiga minggu sesudah pernikahan kami, keluarga dia datang ke keluarga saya untuk merundingkan pernikahan kami secara hukum. Namun apa yang terjadi? Keluarga saya menyambut keluarga dia dengan sinis (karena keluarga saya merasa tertipu dengan pernikahan itu!) sehingga perundingan pun tidak berjalan lancar. Kekecewaan keluarga dia berimbas dengan kekecewaan dia kepada saya.
Saat dia wisuda, keluarga dia tidak mau menerima kedatangan saya dalam acara wisuda dia, meskipun dia udah berstatus istri saya. Saya sedih banget, 2 jam perjalanan saya tempuh untuk menghadiri acara wisuda dia, namun hasilnya NIHIL! Saya pun pulang dengan temen saya yang kebetulan juga wisuda di saat itu.
Akhirnya Menikah?
Tepat 6 November 2012 kemarin, tepat pulalah saya 6 tahun kenalan dengan istri saya. Telah 6 bulan juga saya resmi menjadi suami dia, meskipun masih dalam agama saja. Saya sudah meminta maaf secara langsung kepada dia sekeluarga terhadap sikap keluarga saya. Dengan susah payah, akhirnya keluarga dia dapat mengerti.
Sejak saya menikahi dia, saya pun menjalankan kewajiban saya sebagai pencari nafkah untuk dia. Setiap tanggal 1, mulai Juni 2012, Saya mentransfer uang bulanan untuk istri saya. Dia pun rajin memberikan bekal untuk saya bawa mengajar. Semuanya kami lakukan dalam kehidupan yang terpisah. Dia di kosnya, dan saya di rumah ortu, tp kami bahagia dengan status ini.
Selama 6 bulan ini, saya terus membujuk ortu saya untuk segera menikahkan kami. Tepat tanggal 1 Desember 2012 kemarin, keluarga saya menyetujui untuk menikahkan kami di tahun 2013. Alhamdulillah saya bersyukur dengan kabar gembira ini! Namun keluarga saya mengajukan syarat, keluarga saya tidak mau mengikuti adat istri saya dan tetap menggunakan adat saya. APA? MUSTAHIL!
Di adat dia, keluarga pria mesti mengisi kamar wanita dengan lengkap. Mulai dari tempat tidur, lemari pakaian, sampai bagian terkecilnya. Bisa diisi langsung dengan barang atau diganti dengan uang. Barang atau uang tersebut diserahkan kepada keluarga perempuan saat akan menetapkan hari pernikahan, atau paling lambat sebelum resepsi pernikahan. Pada jaman sekarang ini, biasanya biaya tersebut berkisar 10 juta – 15 juta! WOW!!!
Keluarga saya minta saya bilang ke dia. Kalo dia setuju, baru pernikahan ini akan dilanjutkan. Kalo tidak, maka berakhir sampai disini. Saya bilang ke keluarga saya, kalo akan membicarakannya ke dia. Saya pun membicarakan hal ini dengan dia. Dia pun menanggapinya biasa saja. Saya bingung! Dia bilang, ini sudah biasa terjadi. Setelah bicara panjang lebar, akhirnya kami sepakat untuk mengumpulkan uang 10 juta itu berdua. Dengan begitu syarat adat itu akan terpenuhi tanpa keluarga kami mengetahuinya kalo itu uang kami berdua. Namun istri saya ingin menikah dengan saya secepatnya, walau uang tersebut belum tercukupi

Sebenarnya uang saya udah saya kumpulkan 15 juta untuk mengikuti adat tersebut. Namun keluarga saya udah mencium hal tersebut. Keluarga saya meminta tabungan saya dengan alasan lebih baik investasikan ke emas sebagai modal menikah. Ternyata, uang itu tidak bisa saya minta kembali! Ditambah lagi, gaji saya bulan ini udah buat ngebantu kakak laki2 saya yang terlilit hutang. Tinggal lah uang di rekening hanya Rp 147.532,-
Saya tidak mau memberatkan orang lain, saya terbiasa memecahkan masalah sendiri sejak kecil. Karena saya sejak lahir sudah sering ditinggal kerja oleh ortu saya sehingga dapat dibilang saya hanya dibesarkan oleh nenek saya.
Kemungkinan, awal Januari 2013 keluarga saya mengunjungi keluarga dia. Dan kemungkinan lagi, pernikahan kami akan diselenggarakan awal Maret 2013. OKE..masalah buat menikah udah akan segera selesai! Tapi tidak kewajiban saya secara adat kepada dia! Setelah saya hitung2 dana yang maksimal yang dapat saya kumpulkan dari gaji saya bulan Januari 2013 sampai Maret 2013, kemungkinan hanya sanggup membayar 6 juta rupiah (dengan rincian gaji perbulan digenapkan 2 juta rupiah dan tanpa ditarik sepeser pun). Sedangkan 4 juta rupiah lagi saya bingung mau mencari kemana. Dalam hati saya berkata, “Saya tidak mau membangun keluarga yang dimulai dengan HUTANG!!!”
Itulah yang menyebabkan saya selalu merasa pernikahan saya dan dia antara ada dan tiada. Saya bukan memaksakan keadaan, namun karena saya merasa pernikahan ini sudah WAJIB hukumnya. Untuk menghindarkan diri dari fitnah dunia serta dapat menjalankan tugas SUAMI-ISTRI sebagaimana mestinya. Dan dapat diakuinya status kami secara agama dan hukum.
Tanggal 10 November 2012, sepulang ngajar, saya mengajak dia bertemu untuk membicarakan hal ini pada dia. Selanjutnya saya hitung2 biaya seminimal mungkin dengan dia. Alhamdulillah biayanya bisa diperkecil jadi Rp 7,5 juta.
Tanggal 12 November 2012, Alhamdulillah saya dapat rejeki yang berlimpah hari ini,
yang pertama, tunjangan guru non sertifikasi untuk 3 bulan sudah keluar ~ Rp 750.000,-,
yang kedua, upah Saya sebagai pemateri KKG (Kelompok Kerja Guru) untuk 2 kali pertemuan sudah dibayarkan @Rp 375.000,- jadi 2x375=Rp 750.000,- , yang terakhir, saya dapet bantuan berupa PS3 lengkap dengan aksesorisnya dan Nokia C6-00 dari kakak laki2 saya. Katanya boleh dijual untuk modal nikah! Itu semua saya dapat setelah curhat kepada kakak saya tentang masalah ini.
Tanggal 14 November 2012, akhirnya sedikit demi sedikit bertambah juga tabungan saya untuk modal meskipun uang tunjangan guru non sertifikasi baru bisa dicairkan akhir bulan ini, tetapi saya dapat job tambahan dari Kepala Sekolah untuk menjadi narasumber dalam sebuah workshop 1 kali pertemuan @Rp 300.000,- kemungkinan dapat dilakukan dan dicairkan bulan ini.
Tanggal 15 November 2012, Inna lilahi wa inna ilaihi rajiun, yang namanya musibah memang tidak tahu kita kapan datangnya! Malam tadi, saya bersama kakak ipar saya mau ngejemput Bokap ma GrandMa of Bokap ke kimia farma. Kebetulan tadi malam hujan mulu. Nah, saya diminta bokap ngejemput nenek kesana karena udah tidak ada angkot pulang. Kakak ipar saya pun ngajak jemput pake mobilnya.
Saat itu kondisi jalan sedang hujan, karena mobil kakak ipar saya tidak pakai wiper, kaca mobilnya banyak bintik2 tetesan hujan. Pas dipersimpangan jalan, mobil kakak ipar saya nabrak mobil polisi.
Akhirnya kakak ipar saya kena 500 ribu buat perbaiki dashboard. Saya tau itu emang kesalahan kakak ipar saya, tp saya ikut andil juga karena saya yang disuruh jemput pake motor eh malah ngajak2 kakak ipar saya pake mobil.
Saya sadar perekonomian keluarga kakak saya emang lagi miris banget. Udah hutang dimana-mana, tambah gaji yang dipotong lebih dari separonya buat angsuran hutangnya. Akhirnya saya yang bayar itu tagihan pak polisi. “walau ada pengeluaran tak terduga, Saya yakin..bakal ada juga pemasukan yang tak terduga”
Tanggal 17 November 2012, Alhamdulillah terima kasih ya Allah yang telah melimpahkan banyak rejeki kepada kita semua. Masih ingat dengan PS3 Saya kemarin? Nah, setelah saya masukin ke Forum Jual Beli (dengan revisi harga sebanyak 3 kali, dari 3,5 juta jadi 3 juta ampe akhirnya 2,5 juta) akhirnya ada juga yang beli. Satu lagi, Nokia C6-00, masih ingat kan? Nah, hp ini gak jadi saya jual, karena saya rasa harganya tidak terlalu bisa membantu. Akhirnya dengan berat hati, saya menjual imo S88 discovery (yang belum sempat saya miliki selama 1 bulan) ke FJB dengan harga 1,350 juta.
Dan inilah jumlah saldo saya setelah jualan PS3 dan IMO S88 Discovery.
Belum berakhir bulan ini, dana saya buat menuhin tuntutan adat pun sudah lebih 50% (dari 7,5 juta) terpenuhi. Walaupun harus menjual barang2 kesayangan.

Tepat tahun baru 2013, saya menerima tunjangan beserta uang makan yang sudah saya tandatangani di bulan Desember. Dan juga gaji saya dibulan Januari juga sudah cair, sehingga saldo saya sekarang : Rp. 11.254.777,-

Karena rencana saya sudah mendekati waktunya, saya dan dia udah berencana mencari tempat tinggal. Karena kami bekerja di kota saya, akhirnya kami memutuskan untuk berkediaman di kota saya saja! Dan uang yang kami gunakan adalah jumlah saldo dikurangi dengan kewajiban 7,5 juta. Jadi kira2 ada 3,5 juta. Namun setelah kami survei, kebanyakan kontrakan di kota saya berlabel mulai dari 5 juta. Saya berharap, mudah2an sebelum pertemuan keluarga kami, di Januari ini atau di awal Februari, dana saya udah terkumpul untuk mengisi tuntutan adat dan kontrak rumah.
Pertengahan bulan Januari ini, saya sama dia sepakat buat ngontrak rumah dulu. Kenapa? Karena biasanya awal tahun banyak kontrakan yang kosong. Dia juga sudah setuju untuk mengutamakan kehidupan kami disini, daripada mengisi kamarnya dikampung nanti.
Memang agak susah nyari yg harga segitu (5 juta/tahun) dan dekat dengan sekolah tempat dia ngajar. Rata2 disana, harga kontrakan mulai dari 7 juta. Alhamdulillahnya, yang empunya rumah ternyata selektif milih penghuni kontrakannya, jadi diutamakan yang suami-istri kental dengan nuansa islami. Dan kamipun terpilih! Rumah ini akan segera kami huni di bulan Maret, setelah nikah secara sah di mata hukum, InsyaAllah! Sementara itu, dia bakalan buka les disana. Alhamdulillah tiap bulannya bisa dapet hampir 1 juta. Nah, ini surat perjanjian kontraknya.
Dana saya sekarang tinggal 6 juta, dan kali ini dana keluar lagi! Abang Saya (pegawai bank) butuh dana banget, karena abang saya di-nonjob-kan sementara dari pekerjaannya (karena sesuatu dan lain hal) serta gaji istrinya (dosen) baru dibayarkan Maret karena terhitung pindah Januari ini. Duit itu buat bayar kredit mobil sama cicilan rumah. Akhirnya, abang saya ngejual handycam (2 juta) plus minjem uang ke saya 2 juta. Saya sempet bingung, karena mau nabung atau bantu abang saya. Akhirnya, saya kasih 4 juta ke abang saya tanpa harus dikembaliin. Tapi abang saya ngotot ngasih handycam dan berkata akan bayar 2 juta lagi dengan dicicil 2 bulan. Saya jadi makin tidak tega! Akhirnya, saldo saya penutupan Januari ini adalah : Rp. 2.554.858,-
Yang namanya rejeki memang tidak berpintu! 3 mahasiswa (kebetulan semuanya sudah PNS dan ibu2 berumur setengah baya) datang ke saya buat minta tolong edit skripsi mereka. Waktunya singkat, cuma sampek 11 Februari karena mereka akan wisuda Maret ini! Setelah nego harga, akhirnya kita sepakat di harga 2 juta/skripsi. Uangnya saya terima setelah selesai skripsinya! Sebenarnya saya tidak mau nerima job ini, karena pengalaman saya bikin skripsi dulu pahit banget! Ampe tertunda wisuda 1 tahun. Tapi, mungkin inilah rejeki dari Allah SWT, saya terima dengan lapang dada.
"DIMANA ADA PENGELUARAN, DISANA ADA PEMASUKAN"
Terakhir, InsyaAllah, ortu saya dan ortu dia akan ketemu bulan Februari ini (sebelum tanggal 20) untuk menentukan tanggal pernikahan! Nunggu nyokap saya balik dari Bali (jalan2 sesama dosen). Nah, sebelum perhitungan itulah saya mesti bayar isi kamar itu ke keluarga dia! Eh, dana sekarang malahan menyusut, dari perkiraan 7,5 juta, sekarang tinggal 2,5 juta.
Ternyata, nyokap saya bilang ke saya buat minta keluarga dia datang Rabu tanggal 13 November 2012 ke rumah. Keluarga Saya bakalan berunding buat pernikahan kami.
AKHIRNYA!!!

Hari Rabu, 13 Februari 2012, pukul 11.00 siang keluarga dia ketemu dengan keluarga saya sampai pukul 15.00. Pernikahan kami akan dilaksanakan pada bulan April (tidak jadi Maret), pertimbangannya saya tidak tau karena saya pulang ngajar, keluarga kami sudah megang kalender aja! Awalnya sih..bakalan nikah tanggal 19 April 2013 dan langsung perhelatannya di hari berikutnya (20/4). Berhubung akan diadakannya UN (atau US ya, saya lupa) tingkat SMP. Kenapa dengan UN/US SMP? Karena Datuk (Tetua Adat) di kaum saya menjabat sebagai Kepala Sekolah SMP. Untuk pertemuan keluarga besar, akan diadakan di bulan Maret.

Oh iya, mungkin ada banyak pendapat dari kawan2 mengenai ortu saya yang seperti mengulur atau seolah tidak merestui hubungan kami ini.
Namun, akhirnya saya tahu penyebab dibalik itu semua, ada seseorang yang mengatur ini semua. Yaitu SEPUPU CEWEK SAYA, yang nemenin saya ke kampung dia waktu sekarat itu. Saya bagaikan tersambar petir mendengarnya. Saya mendengarkan hal ini langsung dari abang saya, yang bilang kalau sepupu cewek saya itu selalu menjelek2an dia kepada nyokap saya. Dia bagaikan musuh di dalam selimut! Dia memperkeruh hubungan kami di belakang, sedangkan di depan bagaikan mendukung hubungan kami. Karena dia temen deket dia (seperti yang sudah saya kisahkan), makanya nyokap saya percaya dengan dia.
Abang Saya bilang, nyokap Saya tidak 100% percaya sama dia. Tapi ucapan dia itu cukup manjur untuk membuat ragu nyokap saya kepada dia. Saya tidak tau apa yang dia ucapin ke nyokap saya. Lalu saya ngomong ke nyokap saya mengenai sepupu saya yang menjelek2an dia ke nyokap saya. Nyokap saya menyikapi dengan bijak, nyokap saya bilang "gak usah lagi dibahas mengenai itu, yang jelas sekarang kan udah mau nikah. Ntar kalo dibahas lagi, kita ma keluarga dia jadi tidak berbaikan lagi!". Akhirnya, saya putusin buat stop sampai disana, gak usah bahas lagi mengenai dia.
Saya bersyukur semua berjalan dengan lancar, karena keluarga dia bisa menerima alasan kenapa hal ini selalu terundur, seakan disengaja. Keluarga saya dan keluarga dia makin akrab aja deh! Saya dan dia pun lega. Nikah Maret, syukur, April juga Alhamdulillah! Karena waktu untuk saya mengumpulkan uang jadi makin banyak. Alhamdulillah, semua berjalan lancar berkat doa kita semua. Amin ya Rabb.
SEBUAH AWAL YANG INDAH UNTUK SEBUAH IBADAH
Senin, 18 Februari 2013, pas di kampung, saya sekeluarga ketemu dengan pemangku adat. Setelah melewati musyawarah, disepakati untuk mendatangi keluarga dia di bulan Maret. Dia juga bakalan tinggal dirumah kontrakan kami mulai tanggal 1 Maret. Jadi, 1 bulan sebelum resepsinya, dia bakalan ngurus rumah kami plus ngajar les disana. Sedangkan Saya bakalan masuk kesana setelah kami resmi nikah secara hukum, mungkin pertengahan April.
Sabtu, 23 Februari 2013 kami melengkapi isi rumah kontrakan dengan yang penting dulu. Kayak kasur, tempat tidur, dll. Saya juga kaget ketika mendengar bahwa dia sudah tidak mengikat lagi mengenai kewajiban adat yang mesti saya penuhi. Dia bilang, berapa sisa tabungan saya, segitu saja yang dikasihin ke keluarga dia.
Cihuy..akhirnya, BEBAN ITU HILANG JUGA!!!
SEMUA AKAN INDAH PADA WAKTUNYA
Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS. At-Talaq : 3)