Waktu Saat Ini

Senin, 13 Oktober 2014

Oleh-oleh dari Banyuwangi

Hai kawan, maaf ya kalau saya tidak membawa apa-apa untuk kalian dari kota paling timur Pulau Jawa. Bukannya pelit..., tapi saya tak tahu apa yang harus saya bawa, karena selama lima hari ini, saya tidak menemukan something special. Daripada jauh2 cuma bawa martabak manis (di Banyuwangi disebutnya Terang Bulan), mending saya beliin martabaknya dari Jakarta aja kaaan.....?? so.... buat anak2 Masjid UI, stay di Masjid ya malam ini :)

Sambil nunggu martabaknya mateng, saya mau berbagi cerita nih untuk kalian, cerita yang saya alami selama perjalanan ke Banyuwangi tentunya.

Kamis, 09 Oktober 2014, beberapa minggu setelah saya pulang jalan2 dari Palembang, telah terjadwal perjalanan lagi menuju Banyuwangi, kota paling ujung timur dari Pulau Jawa. Sebelumnya saya sempat bertanya2, kenapa kalau ujung barat Pulau Jawa itu dinamakan Ujung Kulon, tapi ujung timurnya tidak dinamakan Ujung Wetan?? kok malah Banyuwangi (dalam bahasa jawa berarti Air Harum)? Usut punya usut, ternyata ada sejarahnya lo..... biar gak menuh2in postingan, baca aja sendiri disini yah... Asal Usul Kota Banyuwangi ^_^

Nah, pada hari Kamis, kuturut ayah ke kota, naik delman istimewa kududuk di muka saya berangkat dari Stasiun Pasar Minggu menggunakan KRL menuju Stasiun Pasar Senen untuk oper KRD Kertajaya ke Stasiun Pasar Turi Surabaya. Ohh iya... meski dari pasar ke pasar, saya bukan mau dagang lo ya.... apalagi mau nyopet, emang dari sono nama stasiunnya pake nama pasar :)

Sekitar pukul 13.30, sebuah kereta berwarna jingga datang memasuki stasiun Pasar Senen, tidak salah lagi, ini adalah kereta Kertajaya jurusan Pasar Turi Surabaya. Sambil membawa satu tas ransel dan tas kamera, saya menaiki kereta tersebut. Ya... kereta yang sangat baguslah untuk ukuran duit 50.000-an dari Jakarta ke Surabaya. Selama di dalam kereta, ada tiga kegiatan yang saya lakukan, berdiri, duduk, dan tidur :D

Sekitar pukul 02.30, kereta sudah sampai tanah kelahiran, Surabaya. Cepet kan...?? yo'i, karena sekarang sudah dual track lho... saya sih berharap nantinya bakal bisa jadi quad track, hingga octa track :3


Dari Stasiun Pasar Turi, saya harus oper ke Stasiun Gubeng untuk melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi. Saya pun harus menunggu lumayan lama, karena kereta Sri Tanjung dijadwalkan meluncur pukul 04.30. Ternyata...., banyak juga lho.... yang akan naik kereta ini menuju Banyuwangi. Dan kerennya, disini ada iklan bertuliskan "Jakarta is 1000 Island" hehe

Dari sini kereta lanjut menuju Banyuwangi, sempat melihat Sidoarjo, tempat tinggal saya selama beberapa tahun setelah pindah dari Surabaya. Disini saya juga melewati tempat wisata lumpur lapindo. wow... kereeeenn... Te Oo Pe Be Ge Te deh.

Setelah lebih dari lima jam dikereta, saya terbangun, dan secara tak sengaja melihat sebuah tulisan "Stasiun Glenmore", ahh... sepertinya saya sedang mimpi, ya, mungkin mimpi di Eropa. Mana ada di Indonesia ada stasiun bernama "Glenmore", paling ya tak jauh2 dari nama pasar. haha
Apalagi, setelah kepala nengok keluar, saya melihat sosok yang tak biasanya berada disitu dengan memakai pakaian itu.
Buat yang kepincut dengan beliau, sering2 aja naik kereta Sri Tanjung, siapa tahu jodoh, hhe

Beberapa menit kemudian, sampailah saya di stasiun yang dituju, Stasiun Kalisetail, Banyuwangi. Kalau dihitung2 sih, sudah empat kali saya melewati Banyuwangi, waktu study tour ke Bali saat kelas 3 SMP, dan kelas 2 SMA. Ya... dari segi temperaturnya sih mirip2 dengan Bekasi, haha, Bekasi lagi bekasi lagi (lagi booming).

Sesampainya disini, saya langsung check in di Hotel Baru Indah, Jl Yos Sudarso 79, Jajag. Biayanya murah meriah, single bed, TV, ceiling fan, gratis air putih + kopi/teh cuma 70.000/hari. *bukan promosi, just info :)

Disini, saya bersama seseorang, sebut saja mas Imin, setelah ngobrol panjang lebar, kitapun nginep sekamar ambil double bed buat ngehemat biaya sekaligus buat temen ngobrol (ujung2nya sih dia yang ngebayarin :D). Malam harinya, kami jalan2 keluar, nongkrong, makan jagung sambil nyeruput secangkir cappuccino.

Esok harinya, kami sempatkan jalan2 ke kebun buah naga dan jeruk milik saudaranya, wuih... saya disuruh makan buah naga dan jeruk sepuasnya, nyam nyam nyam. Sebelum balik ke hotel, kami mengisi perut di warung nasi pecel, dan tentunya, mas Imin yang bayarin. hehe
Setelah itu kami balik ke hotel dan sudah sibuk dengan urusan masing-masing.

Hari ini saya juga bertemu dengan bapak dan ngobrol panjang lebar tentang keluarga. Dan seperti biasa, saya memegang keputusan terakhir terkait rencana keluarga. Setelah memutuskan perkara tersebut, obrolan semakin ringan, dan seperti biasa ngobrol tentang jodoh. Saya bercerita ke bapak kalau pernah ketemu seseorang ustad di Merak saat akan menuju Palembang. Setelah ngorbol panjang lebar dengan ustad tersebut, beliau tanya tanggal lahir, hari lahir, dan penanggalan Jawa. Kata beliau, saya yang kelahiran Rabu Pahing, cocoknya dengan perempuan yang berhari lahir di hari Jum'at atau Sabtu, haha
Bapak pun menimpali, kalau Rabu Pahing itu bagusnya juga bukan dengan orang2 daerah Timur dan Selatan, tapi daerah Barat, jadi katanya, kalau dapet jodoh orang Jawa Barat itu nanti rintangan hidupnya tidak terlalu banyak. Saya pun cuma bisa mengangguk dan sedikit tersenyum, mengingat sosok idaman saya saat ini memang berasal dari daerah Barat, bukan Timur atau Selatan. *jangan kepo yah ^_^
Setelah maghrib, dan saya kembali ke hotel, dan langsung blek sek meninggalkan separuh nyawa alias tidur.

Hari Minggu, bapak balik ke Tulungagung, saya dan mas Imin bareng2 balik ke Surabaya karena beliau juga akan ke Jakarta naik kereta yang sama, Kertajaya.
Dan sebelum berangkat, saya sempatkan menjepret langit Banyuwangi nan eksotis.
Di perjalanan Banyuwangi --> Surabaya, tepatnya sebelum Stasiun Jember, mas Imin di telpon teman kampusnya yang tidak pernah ketemu semenjak kuliah. Beliau memanggilnya dengan sebutan kupret. Akhirnya beliau menawari saya untuk berhenti sebentar di Jember, menemani beliau menemui teman lamanya. Dan menjanjikan akan membelikan tiket eksekutif kereta Mutiara Timur Siang untuk mengejar jadwal kereta Kertajaya pukul 20.45. Mengingat saat itu masih pukul 09.00, maka saya mengiyakan, apalagi saya juga belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di Kabupaten Jember.

Setelah menunggu sekitar 10 menit, teman beliau datang dengan mengendarai Honda All New City keluaran April 2014. Ternyata beliau juga membawa dua anak perempuannya, namanya ceicil berumur 5 tahun dan kakaknya uni berumur 7 tahun. Dan seperti biasa, saya hanya butuh 5 menit agar dua anak ini mau nempel sama saya, haha

Sebelum mampir ke rumahnya, kami pun diajak ke rumah barunya yang setengah jadi, ya... sekitar 15 menit dari stasiun. Begitu sampek, saya dan mas Imin rada terperangah. Buseeettt..... ini rumah apaan? tingginya aja 4 lantai, brrrr.... Setelah tanya2, ternyata biaya untuk membuat rumah ini sekitar 4.5 Milyar, muke lele. Setelah capek muter2 rumahnya, kami diajak langsung ke rumahnya, sekedar mampir dan ketemu dengan istrinya. Rada tidak percaya begitu ngelihat istrinya, macam masih umur 20-an tahun, dan mirip2 SPG mobil gitu lah. *jangan dibayangkan!

Karena waktu yang semakin mepet, kami langsung diajak makan ke salah satu rumah padang langganannya. Di perjalanan beliau cerita ke saya kalau dulu pernah kuliah di LIA Jakarta mengambil sastra. Tapi semester 6 cabut karena males lagi kuliah dan menjadi sales pupuk. Setelah itu beliau mencoba berbisnis pupuk lima tahun jalan, dan telah menuai suksesnya. Sampai rumah makan padang, saya tambah kaget campur senang, ternyata semua menunya ditaruh di meja makan, dan tinggal comot mana yang mau dimakan, ahhhh.... nikmatnya.... Sesampainya di stasiun Jember, ternyata mas Imin dimintai nomer rekeningnya, haha, rejeki emang gak kemana mas, baru saja beliin saya ini itu langsung diganti dengan yang lebih gede melalui perantara orang lain, :)
Kamipun meninggalkan Jember dengan perut kenyang dan perasaan riang gembira :D.

Setelah perjalanan sekitar 2 jam, pukul 16.00, kami sampai di stasiun Gubeng Surabaya. Disini, kami mendengarkan lantunan piano sembari meregangkan otot2.
Setelah 10-an menit, kami keluar stasiun dan jalan mengikuti feeling. Beberapa menit kemudian, kami menemui simbol kota Surabaya, rejeki emang gak kemana, hehe 
Setelah foto2 narsis :D, kami melanjutkan perjalanan lagi. Eh..... ternyata.... di dekat simbol kota Surabaya ini kami menemui sebuah kapal selam yang berada di darat. Usut punya usut, ternyata ini adalah Monumen Kapal Selam, kereeenn.... Kami pun masuk dengan tiket seharga Rp. 8.000, dan tentunya saya tetap dibayarin, hehe
Disana juga bertepatan dengan pemutaran film sejarah Kapal Selam Pasopati dan sejarah TNI AL. wih, mantep deh pokoknya.
Setelah dari Monumen Kapal Selam, kami jalan kaki lagi melewati mall2 Surabaya dan akhirnya naik taxi menuju Stasiun Pasar Turi untuk selanjutnya bertolak menuju Stasiun Jatinegara, Jakarta.

Alhamdulillah... liburan saya kali ini serasa dimudahkan dan diberi banyak pengalaman tak terlupakan. Semoga liburan nanti jauh lebih indah dari ini, lebih banyak uang jajannya mungkin, lebih panjang waktunya mungkin, atauuu..... dengan pendamping perempuan mungkin. :)

Eh.., tadi ada sms masuk, saya diagendakan lagi ke Jawa Timur hari Kamis ini, tanggal 16 Oktober 2014, asyiikkkk......, liburan lagiiii....... :D

Minggu, 16 Februari 2014

NAK, IBU INGIN BICARA SOAL MILIH-MILIH PEREMPUAN…

Rasanya hampir tidak dapat dipercaya sekarang ibu menulis soal ini kepada dua anak laki laki yang sangat membanggakan hati. Ibu tidak bisa lebih bersyukur atau meminta kepada Tuhan memperoleh putra yang lebih baik daripada kalian.  Kalian bertiga adalah anugerah terbesar dan terindah yang Tuhan berikan kepada ibu.  I could never ask for more…

Membesarkan kalian adalah masa masa terindah dalam hidupku, sekalipun itu harus ditukar dengan prospek perkembangan karir, ibu bahagia memilih menjadi ibu rumah tangga dan menyaksikan kalian tumbuh.

Pada akhirnya ibu harus bicara soal jodoh, mengingat saat ini  kalian sudah cukup pusing dikejar kejar perempuan yang tentu saja mengagumi kualitas yang ada dalam diri kalian. You were brought up with lots of love and values  from your parents. Never forget that.

Rasanya ibu tidak harus  panjang lebar mengulang kembali bagaimana menjadi laki laki sejati . Satu kalimat sederhana mampu mengungkapkan petuah panjang soal itu : Contohilah ayahmu.

Soal perempuan, ibu dapat memahami rasa heran maupun kebingungan kalian. Wanita memang tidak mudah dipahami. Sampai detik ini juga ibu kadang sukar memahami diri sendiri. Itu bagian misteri perempuan yang justru menambah keindahannya. Satu pemahaman umum sederhana adalah wanita ingin disayangi dan dilindungi.

Soal selera secara fisik, ibu tidak perlu komen panjang lebar. Masing masing kalian memiliki selera berbeda, dan itu sah sah saja… Selera itu adalah hak prerogatif yang tidak bisa diganggu gugat. Yang pasti secara jujur ibu harus mengatakan bahwa inner beauty adalah hal terpenting, tapi inner beauty tanpa dibungkus dengan kulit luar yang apik akan menjadi kurang maksimal karena kalian sebagai laki laki sejati tidak mau merasa malu membawa istri dan mengenalkannya kepada orang lain, terutama sahabat dan keluarga. Kalian berdua sudah cukup dewasa untuk mengartikan ini…

Dari dulu ibu tidak pernah rewel soal berteman. Yang selalu ibu ingatkan adalah harus selalu baik dan sopan kepada orang lain. Berkawanlah sebanyak mungkin. Jangan memilih milih teman karena status sosialnya maupun dilihat dari uangnya. Tidak semua yang kaya itu baik, tidak semua yang miskin juga baik. Uang hanyalah sarana dan alat membeli sesuatu yang dibutuhkan dan diinginkan. Uang itu perlu, oleh karenanya aturlah uang dengan baik, dan jangan pernah membiarkan uang mengatur kalian, apalagi sampai bisa membeli hati nurani.

Entahlah kalau ibu ibu yang lain… tapi ketika menyangkut soal memilih jodoh, ibu harus minta maaf lebih dulu. Jujur ibu akan sanget bawel soal ini.  Ibu tidak pernah mungkin bisa benar benar objektif menilai wanita yang akan menjadi istri kalian, tapi sedapat mungkin ibu janji akan bersikap adil dan fair sebatas kemampuan ibu. You two know that I am a fair person. Ibu benci ketidak adilan.

Meskipun sejujurnya ibu sudah berulang kali mengatakan… rasanya tidak ada wanita yang cukup pantas mendapatkan kalian. Ini  adalah  ungkapan kebanggaan seorang ibu kepada anak laki lakinya. Overdosis ? mungkin memang kedengaran berlebihan…but I can’t help it. Kelak istri kalian juga akan merasakan hal yang sama jika kalian memiliki anak laki laki…
Memilih istri itu mungkin kurang lebih mirip dengan memilih mobil… Ada begitu banyak ragam jenis mobil dengan spesifikasi yang berbeda. Kenali diri kalian.. ketahui apa yang menjadi selera kalian.  Satu hal prinsip yang paling berbeda antara istri dan mobil adalah : Istri itu abadi. Tidak bisa ditukar tambah kapan saja kalian mau. When you get married, you married for life.

Jangan pernah menikah hanya karena merasa sudah umurnya harus menikah. Menikahlah karena kalian merasa pasti bahwa dengan dirinya kalian akan saling membahagiakan selamanya.

Ini yang bisa ibu katakan mengenai petunjuk umum secara garis besar ketika itu menyangkut calon istri…

-  Look for the right chemistry. Kalian akan tahu itu ketika bertemu dengan yang cocok. Kalian akan menyadari bahwa rasanya masuk akal kenapa selama ini yang lain kurang menarik, dan ada sesuatu yang rasanya kurang sebelum bertemu dengannya.

Ada pesona tersendiri yang dibawanya yang memang melekat dalam dirinya tanpa dibuat buat.  Ibu pikir dulu ayahmu jatuh cinta dengan ibu karena diantara teman teman calon dokternya yang lembut feminin, tiba tiba nongol seorang wanita yang lain dari yang lain. Yang bisa memanjat pohon dan berantem dengan sangat baik….  Rupanya pria kalem yang tenang itu tergeletak tak berdaya dengan seorang gadis blak blakanyang kalau makan tidak pernah malu malu, dan bisa menyatakan pendapatnya dengan jujur,  sekalipun harus berbeda… Siapa yang bisa menyangka ? Tanya ayahmu soal chemistry… ibu tidak pernah bosan mendengar cerita klasik bagaimana dia jatuh cinta dengan ibu…

- Nilai kebaikannya bukan semata dari cara dia memperlakukan kalian, tapi bagaimana dia memperlakukan orang lain, terutama mereka yang lebih tidak beruntung dari dirinya.

Tentu saja wanita akan baik kepada pria yang dicintainya.  Kebaikan sejati itu dinilai dari bagaimana dia bersikap dan memperlakukan orang lain. Apakah dia adil dan jujur ? Apakah dia penuh belas kasih ?  Bagaimana dia menghormati orang tua dan memperlakukan teman temannya ? Dengan siapa dia bergaul ?. Bagaimana gaya hidupnya ? Apakah dia bisa tersenyum sama lebarnya ketika diajak makan di restaurant mahal  ataupun di warung Tegal yang murah meriah ?.

Perlu waktu untuk menilai ini semua. Tapi kalau soal jodoh, selalu ibu katakan, jangan merasa diburu buru.  Take your time… give time enough time.

- Pilihlah wanita yang mampu menertawakan dirinya sendiri. Ini kemampuan hebat yang sangat perlu. Hidup ini akan membawa kalian kepada banyak masalah dan lika liku… Tapi tidak ada yang lebih menyenangkan daripada  hidup bersama dengan wanita yang mampu membuat kalian tertawa.

Pilihlah wanita yang bisa tertawa ketika kalian mengatakan “kartu ATM-ku tertelan lagi….

Selera humor yang baik itu bukan menertawakan orang lain, tapi lebih kepada bagaimana dia bisa menertawakan dirinya sendiri dan melihat sisi lucu dan baik dari segala sesuatu.  Pada akhirnya cinta yang bergelora itu akan stabil… kupu kupu yang terbang tak tentu arah dalam perut kalian ketika pertama jatuh cinta, akan hinggap dengan tenang dan menetap, digantikan dengan rasa nyaman yang  menyenangkan…, tapi perekat cinta yang awet adalah tertawa bersama menjalani kehidupan rumah tangga kalian.

- Menikahlah dengan wanita yang memiliki prinsip hidup yang baik dan menghormati prinsip prinsipnya. Dia tidak harus selalu setuju dengan kalian. Buat apa menikah dengan orang yang selalu mengatakan ya ? When two person always agree, one is not necessary…

Pilihlah wanita yang mampu menyikapi perbedaan pendapat, mampu menghargai perbedaan selera dan berkompromi secara fair…

Menikahlah dengan wanita yang mampu bicara jujur demi kebaikan.

- Ini yang terakahir, tapi bukan berarti tidak penting…. Menikahlah dengan wanita yang menghormati kalian. Ibu akan menjadi orang yang paling naik pitam jika kalian dikasari. Terutama di depan umum. Never .. ever let a woman be rude to you.

Ibu bisa mengatakan ini karena ibu mendidik kalian untuk selalu menghormati dan menghargai wanita.  Cinta tanpa penghargaan bagaikan mobil tanpa setir, tidak berguna.

Well, you know your mother.. ini dulu yang bisa ibu katakan. Mudah mudahan tidak ada lagi yang perlu ibu tambahkan  kecuali bahwa I love you and will always be proud of you , my sons.

For Russell and Reinhart, with unlimited love from your Mum.)

Ditulis oleh Ellen Maringka pada kompasiana muda


Minggu, 26 Januari 2014

CeritaJika #8 : Jika Istrimu Seorang Psikolog


Suatu hari jika kamu menemukanku sebagai istrimu, satu hal yang pertama kali ingin aku sampaikan. Satu hal yang aku ingin agar kamu tahu, paham, dan selalu ingat. Bahwa aku, tidak bisa membaca pikiranmu. Aku bisa memahamimu hanya jika kamu menunjukkan kepadaku apa yang harus aku pahami. Kita berdua dahulunya orang yang saling tidak mengenal bukan? Jika suatu hari aku belum paham tentang jalan pikiranmu, perasaanmu, persepsimu terhadap sesuatu, keinginanmu. Tolong bersabar, pemahaman butuh waktu. Jika kau bersabar, aku akan setia belajar.

Suatu hari jika kamu menemukanku sebagai isterimu, satu hal yang aku minta kepadamu. Support, dukungan, motivasi, sudut pandang positif, afeksi. Apapun itu istilahnya. Yang aku inginkan bahwa kamu paham, aku juga manusia biasa yang kadang lemah, kadang murung,  bad mood, down, kecewa, putus asa, kadang bisa kesal dan marah. Dan jika itu terjadi, aku ingin kau selalu hadir disisiku. Nyata ataupun maya. Membantu memperbaiki moodku, meluruskan niatku, memotivasi jiwaku, meredakan amarahku, menerangi kebingunganku. Sekecil apapun itu, aku akan sangat berterima kasih.

Jika suatu hari nanti kamu menemukanku sebagai isterimu, jangan pernah mengatakan ‘kamu kan psikolog!, harusnya…”. Aku tahu tentang perkembangan manusia, perkembangan yang berakibat baik dan buruk. Jika perkembangan itu dimulai dari masa dewasa, masa ketika aku kuliah Psikologi. Maka aku yakin aku bisa menjadi manusia yang sempurna untukmu. Tetapi sayang, perkembangan manusia itu dimulai dari sejak kita bayi. Tentu aku mengalami masa-masa buruk, masa-masa yang tidak terlalu mendukung perkembanganku. Masa-masa yang kadang traumatis dan menyedihkan. Masa-masa yang menyisakan unfinish business  dan memberi bekas padaku hingga saat ini. Jangan pernah katakan ya?

Jika suatu hari kau menemukanku sebagai isterimu. Maukah kau mendengarkan konsep-konsep kehidupan berumah tangga yang aku pelajari dan aku pahami? Mendengarkan saja dulu. Tentang komunikasi yang akan kita terapkan, tentang fungsi dan peran masing-masing diri dalam rumah tangga, tentang aturan-aturan yang harus kita jaga dan patuhi. Dan yang paling utama adalah bagaimana kita mengkonsep dalam mendidik anak. Tentu aku punya pertimbangan secara psikologis dalam semua hal itu. Untuk itu aku membutuhkanmu untuk mendengarkan. Karena aku paham, yang menjalani rumah tangga ini bukan aku, tapi kita. Pun ketika kamu memiliki konsep konsep yang lain, aku sangat mau untuk mendengarkannya.

Jika suatu hari kau menemukanku sebagai isterimu nanti. Tolong jangan terganggu dengan orang-orang yang senang curhat kepadaku. Mereka yang menelpon tengah malam, yang tiba-tiba datang kerumah. Diantara mereka ada yang mungkin klien yang  tidak aku kenal. Namun, diantara mereka mungkin juga teman-temanku sendiri. Diantara mereka, ada yang perempuan juga ada laki-laki. Untuk kau tahu, jika dalam dunia psikologi ada kode etik yang tidak boleh mencampurkan urusan pribadi dengan masalah klien, tetapi jika klien itu teman sendiri? Atau teman sendiri yang tidak mendaftar resmi sebagai klien tetapi meminta nasihat sebagai teman yang kebetulan psikolog?  Maka tolong bersabar, jangan terganggu. Aku ingin kamu selalu ada disitu, untuk selalu mengingatkanku.

Jika suatu hari kamu menemukanku sebagai isterimu. Bolehkah aku tinggal dirumah saja? Mendirikan biro konsultasi dengan klien yang sangat terbatas sebagai janji profesiku, karena Aku ingin selalu hadir dalam setiap perkembangan anak-anak kita. Aku ingin selalu ikut campur dalam mengajari moral, emosi, sosial dan intelektual.  Bolehkah aku menjadi guru utama anak-anak kita? Maksudku, mungkin ini sedikit ekstrim. Bolehkan anak-anak kita sekolah di rumah saja? Bersamaku? Jika nanti anak-anak kita berontak dan ingin bersekolah bersama teman-temannya, bisa kita pertimbangkan bukan untuk menyerahkan seluruh perkembangan anak ke lembaga sekolah, tapi hanya untuk perkembangan sosial saja. Aku tidak terlalu berhasrat memiliki anak brialian. Sorry for that. Aku sangat berhasrat agar anak kita memiliki kematangan emosi dan pertimbangan moral yang baik. Aku sudah mempelajari caranya, itu bisa dilatih. Tentu dengan dukungan dan restumu. Jika nanti anak kita tumbuh brilian, itu adalah bonus dari Allah.

Jika kamu menemukanku sebagai isterimu, ketika kita memiliki anak-anak kecil dan remaja, bolehkan kita tinggal di pinggir kota saja? Tidak masalah tinggal di tempat seperti apa. Kota, bagiku tidak baik untuk perkembangan sosial anak kita.

Jika suatu hari kau menemukanku sebagai isterimu, aku ingin kita selalu memiliki waktu, untuk saling memeluk dan diam untuk beberapa saat. Agar aku selalu merasakan keberadaanmu, kaupun selalu merasakan keberadaanku. Dan merasakan detak jantung kita menjadi satu.

——————————————————————————————————

Submitted :

Yuar Dwitami

Psikologi - Unversitas Gadjah Mada

sumber: http://kurniawangunadi.tumblr.com/post/65487666588/ceritajika-8-jika-istrimu-seorang-psikolog