Waktu Saat Ini

Kamis, 22 Oktober 2009

HUKUM

1. Masyarakat adlh suatu kumpulan individu yg tnggl di kawasan yg sama dan memiliki tujuan yg sama. Dalam proses mencapai tujuan, individu memiliki kepentingan yg berbeda2. Kepentingan yg berbeda inilah yg menimbulkan interaksi sosial, baik yg bersifat positif maupun negative. Interaksi negative itulah yg dinamakan konflik. Untuk menyelesaikan konflik dlm masy, diperlukan kaidah2 / norma2 yg berlaku dlm masy. Dmn fungsi dr kaidah trsbt adlh u/ menertibkan masy.

Kaidah2 sosial trsbt dibagi mjd empat, yaitu kaidah kepercayaan / agama, kaidah kesopanan, kaidah kesusilaan dan kaidah hkm. Dalam praktik nyatanya, kaidah hkmlah yg paling dominant mempengaruhi masy u/ melakukan a/ tdk melakukan sesuatu.

Krn, sifat dr kaidah hkm itu sndiri adlh memaksa dan memiliki sanksi yg tegas, dmn tiap butir peraturan yg berada di dalamnya, tlh di legalisasi o/ pihak2 resmi dan berwenang. Jadi, orang akn berpikir dua kali sblm melakukan tndakan yg dirasa melanggar hkm. Krn jk tdk, ia akn dijerat o/ sanksi hkm itu sendiri. Dan kaidah hkm efektif di gunakan, krn memiliki sifat penjera bg mrk yg tlh melakukan kesalahan.

2. Corak hkm, dpt di tempuh dgn tiga cara, yg pertama adalah UNIFIKASI dmn arti dr unifikasi itu sendiri yaitu berlakunya satu sistem hkm bg setiap orang dlm kesatuan klmpk sosial a/ suatu Negara. Misalnya,UUD 1945 dan peraturan2 yg trdpt di dlmnya, hanya berlaku di Negara Indonesia saja. Tidak akan berlaku di Negara lain. Yg kedua adalah DUALISTIK HKM, yaitu berlakunya dua sistem hkm bg du klmpk sosial yg berbeda did lm satuan klmpk sosial yg sama, a/ dpt disebut Negara. Contohnya adlh, di NAD, berlaku dua siste peradilan. Hkm UUD 45 dan Hkm Islam. Jadi, bila seseorang melakukan tndak kejahatan, dia tdk hanya terkena hkm yg berlaku menurut UUD 45 saja, tetapi jg terkena hkman yg di berikan o/ hkm Islam yg jg berlaku di sana. Contohnya, bila ada penduduk asli / pendatang/ wisatawan sekalipun di Aceh yg mencuri, ia diberi hkman o/ masy setempat u/ di adili berdasarkan UU yg mengaturnya. Dan yg terakhir adalah Pluralistis hkm. Yaitu berlakunya bermacam-macam sistem hkm bg klmpk2 sosial yg berbeda did lm kesatuan klmpk sosial a/ suatu Negara. Contohnya adlh hkm yg dipakai di Indonesia ketika baru merdeka. Dmn Indonesia yg baru merdeka, blm memiliki landasan hkm yg kuat yg mampu mengatur ketertiban di dalam masy.

3. Di dlm pelaksanaan hokum acara pidana, trdpt dua azas. Yaitu azas legalitas dan azas praduga tak bersalah. Dmn kedua azas trsbt brpran sgt pnting dlm mengatur ketertiban antar individu dlm kehidupan bermasyarakat. Azas legalitas itu sendiri mrpkn suatu ketentuan hokum yg menyebutkan bhw suatu perbuatan tdk dpt ditindak hkm krn perbuatan trsbt tdk disebutkan / dituliskan dlm UU. Contohnya saja, ilmu hitam. Seperti santet. Memang, menurut kacamata public, mrpkn perbuatan yg slh dan dpt disebut kejahatan. Namun, u/ menhukum orang yg melakukan santet trsbt, hkm tdj dpt ikut andil di dalamnya. Krn, azas legalitas yg tlh dijelaskan di awal paragraph. Yang kedua adlh azas praduga tak bersalah, azas ini menyebutkan bhw seseorang tdk dpt diputuskan bersalah, sblm diputuskan o/ hakim. Misalnya orng yg tertangkap bsh sdng mencuri. Dia blm dpt dikatakan bersalah, krn blm diadili o/ hakim di meja hijau. Tujuan dr azas ini adlh u/ menghindari perbuatan2 onar, yg dilakukan masy kpd seseoang yg tertangkap mata tlh melakukan tundak kejahatan. Seperti misalnya, kasus pembakaran seorang pencuri sepeda motor, yg dilakukan o/ warga di suatu daerah. Dengan azas ini diharapkan masy tdk “main hakim sendiri” dlm menyikapi suatu mslh.

4. Secara teoritis KUHP adalah bentuk hokum materiil. Sedangkan KUHAP adalah bentuk secara formiil. Mksudnya adalah KUHAP adalah bentuk nyata pelaksanaan dari KUHP. Dimana di dalam KUHP itu sendiri berisi aturan2 tentang perintah, larangan serta sanksinya, dan KUHAP merpkn tata cara pelaksanaan pengadilan yg didasarkan pada KUHP itu sendiri. Contohnya saja, seseorang yg terbukti membunuh / melanggar salah satu pasal yg tertulis dlm KUHP. Dan u/ membuktikan tindakan pelanggaran trsbt, berlakulah KUHAP dimulai dari penangkapan sampai diputuskannya bersalah / tdknya ia o/ hakim di pengadilan.

5. Kumpul kebo dan black magic memang notabenenya mrpkn perbuatan yg merugikan dan dpt di sebut kejahatan. Namun, pd kenyataannya sampai saat inipun blm ada proses kriminalisasinya, hal ini di sebabkan krn jika dibuat peraturan perundangan mengenai hal tsbt, mk akn berpotensi menimbulkan keonaran dlm masy yg tentunya sgt berlawanan dgn tujuan dr hkm itu sndiri. Contohnya saja jika ada pria dan wanita tinggal dlm satu atap, tentunya akn mjd permasalahan jk peraturan perundangan mengenai kumpul kebo / larangan pria dan wanita tinggal dalam satu atap itu dibuat.

6. HAN lebih luas drpd HTN krn cakupannya lbh byk drpd HTN. HTN adlh hkm yg mengatur trhdp pembentukan jabatan2 dan susunan / strukturnya. Jadi dlm HTN yg diatur hanya adlh hubungan jabatan dan pemangku jabatan. Sedangkan HAN mengatur mengenai aktivitas kekuasaan eksekutif, surat menyurat/kearsipan negara dan tugas2 yg ditetapkan UU sbg urusan negara. Jadi cakupan HAN lbh byk dan luas drpd HTN.

7. Dlm kehidupan bermasy, hkm perdata dan hkm dagang mrpkn satu kesatuan yg tdk dpt dipisahkan. Krn hkm dagang itu sendiri mrpkn bagian dr hkm perdata. Hkm perdata adlh hkm yg mengatur tingkah laku individu yg satu dgn individu yg lain dlm kehidupan bermasy. Sedangkan hkm dagang pd dsrnya sama sprt hkm perdata, namun cakupannya terbatas / dikhususkan hanya pd bagian perniagaan saja. Jadi, kedua hkm trsbt memang saling terkait krn hkm dagang mrpkn wujud nyata pelaksanaan dr hkm perdata. Contohnya saja dalam pejanjian jual beli tanah

8. Kebiasaaan adlh tindakan pola tingkah laku yg ttp, ajeg, lazim, normal, a/ adap dlm masy tertentu yg secara turun temurun berulang. Dlm psl 15 AB yg berbunyi “selain pengecualian2 yg ditetapkan mengenai orang2 Indonesia dan orang2 yg dipersamakan, maka kebiasaan tdk mrpkn hkm kecuali apabila UU menetapkan demikian.”

Brdsrkan psl diatas, kebiasaan di sini memang diakui keberadaannya, tetapi hanya apabila UU menunjuknya. Ini berarti, apabila UU tdk menunjuknya, hkm tdk prlu memberlakukannya. Kebiasaan dpt mjd hkm kebiasaan. Hkm kebiasaan mrpkn smbr hkm. Seorang hakim dpt menggunakan kebiasaan dlm mengambil keputusan apabila UU menetapkan demikian.

9. Hakim pd peradilan pidana brsift aktif utk memecahkan kasus yg diajukan. Hakim mencari bukti dan menyelidiki sblm kasus itu diajukaan dlm pengadilan. Hakim mengejar kebenaran materiil, yaitu kebenaran yg hrs didasarkan pd alat2 bukti yg sah menurut UU dan hrs ada keyekinan hakim. Hakim memberikan keputusan tentang kasus yg terjadi berdasarkan psl2 dan aturan yg tlh ada.
Hakim pada peradilan perdata bersifat pasif. Dia hanya mendengarkan perkara brdsrkan argument dr penggugat dgn tergugat. Hakim mengejar kebenaran formal kebenaran yg hanya didsrkan pd bukti yg ada di persidangan. Kasus bisa tdk dilanjutkan scr hkm, namun bisa diselesaikan dgn cara perdamaian. Hakim memberikan jawaban ats gugatan yg diajukan stlh mendengarkan argument dlm siding perdata trsbt. Hakim hanya sbg moderator dlm persidangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih Telah Mengisi Komentar